Sunday, 20 November 2016

Patofisiologi limforma hodkinds

Sunday, 6 November 2016

Patofisiologi gagal ginjal akut

Sunday, 30 October 2016

Patofisiologi diabetes melitus gestasional



                                                                             DOWNLOAD

Wednesday, 26 October 2016

Makalah PSIKOTERAPI SUPORTIF PADA PASIEN DENGAN MASALAH PSIKOSOSIAL

BAB I
PEMBAHASAN

A.    LATAR BELAKANG
Psikoterapi merupakan salah satu modalitas terapi yang terandalkan dalam tatalaksana pasien psikiatri disamping psikofarmaka dan terapi fisik. Sebetulnya dalam kehidupan sehari-hari, prinsip-prinsip dan beberapa kaidah yang ada dalam psikoterapi ternyata juga digunakan, antara lain dalam konseling, pendidikan dan pengajaran, ataupun  pemasaran.
    Dalampraktek, psikoterapi dilakukan dengan percakapan danobservasi. Percakapan dengan seseorang dapatmengubah pandangan, keyakinan serta perilakunya secaramendalam, dan hal ini sering tidak kita sadari. Beberapa contohnya, antara lain seorang penakut, dapat berubahmenja diberani, atau, dua orang yang saling bermusuhan satus ama lain, kemudian dapat menja disaling bermaafan, atau, seseorang yang sedih dapat menjadi gembiras etelah menjalani percakapan dengan seseorang yang dipercayainya. Bila kita amati contoh-contohitu, akan timbul pertanyaan, apakah sebenarnya yang telah dilakukan terhadap mereka sehingga dapat terja diperubahan tersebut?  Pada hakekatnya, yang dilakukan ialah pembujukan atau persuasi. Caranya dapat bermacam-macam, antara lain dengan memberinasehat, memberi contoh, memberikan pengertian, melakukan otoritas untuk mengajarkan sesuatu, memacu imajinasi, melatih, dsb.  Pembujukan ini dapat efektifasal dilakukan pada saat yang tepat, dengan cara yang tepat, oleh orang yang mempunyai cukup pengalaman.  Padaprinsipnya pembujukan ini terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dalam berbagai bidang, dandapat dilakukan oleh banyak orang.
    Dalam dunia kedokteran, komunikasi antara dokter dengan pasien merupakan hal yang penting oleh karena percakapan atau pembicaraan merupakan hal yang selalu terjadi diantara mereka. Komunikasi berlangsung dari saat perjumpaan pertama, yaitu sewaktu diagnosis belum ditegakkan hingga saat akhir pemberian terapi. Apa pun hasil pengobatan, berhasil atau pun tidak, dokter akan mengkomunikasikannya dengan pasien atau keluarganya; hal itu pun dilakukan melalui pembicaraan. Dalam keseluruhan proses tatalaksana pasien, hubungan dokter-pasien merupakan hal yang penting dan sangat menentukan, dan untuk dapat membentuk dan membina hubungan dokter-pasien  tersebut, seorang dokter dapat mempelajarinya melalui prinsip-prinsip psikoterapi.
    Sejak berabad yang lalu, para ahli telah menyadari bahwa psikoterapi berperan penting pada penyembuhan gangguan-gangguan pikiran dan perasaan, dan dokter berperan penting dalam hal itu (A healer is a person to whom a sufferer tells things; and out of his or her listening, the healer develops the basis for therapeutic interventions. The good listener is the best physician for those who are ill in thought and feeling).  Oleh karena itu dahulu psikoterapi sering disebut sebagai the talking cure. Psikoterapi diterima sebagai ilmu dan ketrampilan tersendiri, sebagai pengembangan lebih lanjut dari prinsip-prinsip the talking cure tersebut, oleh karena terdiri atas teknik-teknik dan metode khusus yang dapat diajarkan dan dipelajari.           
    Mengapa psikoterapi penting dipelajari? Psikoterapi merupakan alat yang dapat membantu dan penting dipelajari khususnya oleh dokter dan para profesional lain yang berperan dalam kesehatan dan kesehatan jiwa, namun perlu pula diingat bahwa teknik dan metodenya yang tertentu dan bermacam-macam tersebut memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat dipelajari dan dipraktekkan dengan baik. Tentunya, dengan hanya membaca buku ajar yang singkat ini tidaklah mungkin mencakup keseluruhan hal mengenai psikoterapi, namun setidaknya prinsip-prinsip dasar psikoterapi dapat dipahami, untuk dapat diaplikasikan dalam praktek sehari-hari, sehingga dapat turut menunjang upaya peningkatan mutu pelayanan kepada pasien.
    Secara non spesifik, psikoterapi dapat menambah efektivitas terapi lain; sebagai suatu yang spesifik atau khusus, sebagaimana telah disebutkan di atas, psikoterapi merupakan rangkaian teknik yang digunakan untuk mengubah perilaku (catatan: teknik merupakan rangkaian tindakan yang dibakukan untuk mendapatkan perubahan tertentu, bukan urutan perubahan alamiah, sehingga harus dilatih untuk mencapai ketrampilan optimal). Dengan psikoterapi, seorang dokter akan dapat memanfaatkan teknik-teknik untuk meningkatkan hasil yang ingin dicapainya. Bila seorang dokter tidak mengerti atau memahaminya, sebetulnya bukan hanya tidak akan menambah efektivitas terapinya, melainkan setidaknya dapat menghindarkan hal-hal yang dapat merugikan pasiennya. 

B.    RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1.    Apa yang dimaksud dengan psikoterapi dan psikososial?
2.    Sebutkan jenis-jenis psikoterapi!
3.    Sebutkan jenis-jenis psikososial!
4.    Sebutkan psikoterapi yang digunakan pada pasien yang menderita masalah psikososial!

C.    TUJUAN PENULISAN
1.    Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari penulisan makalah ini adalah memberikan gambaran atau pemahaman tentang psikoterapi yang digunakan pada penderita dengan masalah psikososial.
2.    Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penulisan makalah ini adalah:
a.    Memberikan pemahaman tentang psikoterapi dan psikososial pada mahasiswa khususnya mahasiswa AKPER KABUPATEN BUTON.
b.    Memberikan informasi tertang jenis-jenis psikoterapi dan psikososial pada mahasiswa khususnya mahasiswa AKPER KABUPATEN BUTON.
c.    Memberikan pemahaman tentang jenis psikoterapi suportif pada penderita dengan masalah psikososial.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    DEFINISI PSIKOTERAPI DAN PSIKOSOSIAL
1.    Definisi Psikoterapi
Banyak definisi yang dikemukakan oleh para ahli. Antara lain yaitu bahwa psikoterapi adalah terapi atau pengobatan yang menggunakan cara-cara psikologik, dilakukan oleh seseorang yang terlatih khusus, yang menjalin hubungan kerjasama secara profesional dengan seorang pasien dengan tujuan untuk menghilangkan, mengubah atau menghambat gejala-gejala dan penderitaan akibat penyakit. Definisi yang lain yaitu bahwa psikoterapi adalah cara-cara atau pendekatan yang menggunakan teknik-teknik psikologik untuk menghadapi ketidakserasian atau gangguan mental.
Psikoterapi disebut sebagai pengobatan, karena merupakan suatu bentuk intervensi, dengan berbagai macam cara dan metode - yang bersifat psikologik - untuk tujuan yang telah disebutkan di atas, sehingga psikoterapi merupakan salah satu bentuk terapi atau pengobatan disamping bentuk-bentuk lainnya dalam ilmu kedokteran jiwa khususnya, dan ilmu kedokteran pada umumnya.  
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, talking cures telah digunakan orang sejak berabad yang lalu. Misalnya, Soranus dari Ephesus, seorang dokter pada abad pertama Masehi, menggunakan percakapan atau pembicaraan untuk pasien-pasiennya dan mengubah ide-ide yang irasional dari pasien depresi. Kini, dalam terapi kognitif (salah satu jenis psikoterapi), terapis menelusuri cara berpikir yang irasional pada pasien-pasien depresi dan membimbing mereka agar kemudian dapat mengatasinya sendiri.

2.    Definisi Psikososial
Psikososial adalah setiap perubahan dalam kehidupan individu, baik yang bersifat psikologik maupun sosial yang mempunyai pengaruh timbal balik.

B.    JENIS-JENIS PSIKOTERAPI
a.    Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, psikoterapi dibedakan atas:
1.    Psikoterapi Suportif:
Tujuan:
-    Mendukung funksi-funksi ego, atau memperkuat mekanisme defensi yang ada
-    Memperluas mekanisme pengendalian yang dimiliki dengan yang baru dan lebih baik.
-    Perbaikan ke suatu keadaan keseimbangan yang lebih adaptif.
-    Cara atau pendekatan: bimbingan, reassurance, katarsis emosional, hipnosis, desensitisasi, eksternalisasi minat, manipulasi lingkungan, terapi kelompok.
2.    Psikoterapi Reedukatif:
Tujuan:
Mengubah pola perilaku dengan meniadakan kebiasaan (habits) tertentu dan membentuk kebiasaan yang lebih menguntungkan.
Cara atau pendekatan: Terapi perilaku, terapi kelompok, terapi keluarga, psikodrama, dll.
3.    Psikoterapi Rekonstruktif:
Tujuan :
Dicapainya tilikan (insight) akan konflik-konflik nirsadar, dengan usaha untuk mencapai perubahan luas struktur kepribadian seseorang.
Cara atau pendekatan: Psikoanalisis klasik dan Neo-Freudian (Adler, Jung, Sullivan, Horney, Reich, Fromm, Kohut, dll.), psikoterapi berorientasi psikoanalitik atau dinamik.

b.    Menurut “dalamnya”, psikoterapi terdiri atas: 
1.    ”superfisial”, yaitu yang menyentuh hanya kondisi atau proses pada “permukaan”, yang tidak menyentuh hal-hal yang nirsadar atau materi yangdirepresi.
2.    “mendalam” (deep), yaitu yang menangani hal atau proses yang tersimpan dalam alam nirsadar atau materi yang direpresi.

c.    Menurut teknik yang terutama digunakan, psikoterapi dibagi menurut teknik perubahan yang digunakan, antara lain psikoterapi ventilatif, sugestif, katarsis, ekspresif, operant conditioning, modeling, asosiasi bebas, interpretatif, dll.
d.    Menurut konsep teoretis tentang motivasi dan perilaku, psikoterapi dapat dibedakan menjadi: psikoterapi perilaku atau behavioral (kelainan mental-emosional dianggap teratasi bila deviasi perilaku telah dikoreksi); psikoterapi kognitif (problem diatasi dengan mengkoreksi sambungan kognitif automatis yang “keliru”; dan psikoterapi evokatif, analitik, dinamik (membawa ingatan, keinginan, dorongan, ketakutan, dll. yang nirsadar ke dalam kesadaran). Psikoterapi kognitif dan perilaku banyak bersandar pada teori belajar, sedangkan psikoterapi dinamik berdasar pada konsep-konsep psikoanalitik Freud dan pasca-Freud.
e.    Menurut setting-nya, psikoterapi terdiri atas psikoterapi individual dan kelompok (terdiri atas terapi marital/pasangan, terapi keluarga, terapi kelompok)
Terapi marital atau pasangan diindikasikan bila ada problem di antara pasangan, misalnya komunikasi, persepsi,dll. Terapi keluarga, dilakukan bila struktur dan fungsi dalam suatu keluarga tidak berjalan sebagaimana mestinya. Bila salah satu anggota keluarga mengalami gangguan jiwa, akan mempengaruhi keadaan dan interaksi dalam keluarga dan sebaliknya, keadaan keluarga akan mempengaruhi gangguan serta prognosis pasien. Untuk itu seluruh anggota keluarga diwajibkan hadir pada setiap sesi terapi. Terapi kelompok, dilakukan terhadap sekelompok pasien (misalnya enam atau delapan orang), oleh satu atau dua orang terapis. Metode dan caranya bervariasi; ada yang suportif dan bersifat edukasi, ada yang interpretatif dan analitik. Kelompok ini dapat terdiri atas pasien-pasien dengan gangguan yang berbeda, atau dengan problem yang sama, misalnya gangguan makan, penyalahgunaan zat, dll. Diharapkan mereka dapat saling memberikan dukungan dan harapan serta dapat belajar tentang cara baru mengatasi problem yang dihadapi.
f.    Menurut nama pembuat teori atau perintis metode psikoterapeutiknya, psikoterapi dibagi menjadi psikoanalisis Freudian, analisis Jungian, analisis transaksional Eric Berne, terapi rasional-emotif Albert Ellis, konseling non-direktif Rogers, terapi Gestalt dari Fritz Perls, logoterapi Viktor Frankl, dll.

g.    Menurut teknik tambahan khusus yang digabung dengan psikoterapi, misalnya narkoterapi, hypnoterapi, terapi musik, psikodrama, terapi permainan dan peragaan (play therapy), psikoterapi religius, dan latihan meditasi.
h.    Yang belum disebutkan dalam pembagian di atas namun akhir-akhir ini banyak dipakai antara lain: konseling, terapi interpersonal, intervensi krisis.

C.    MASALAH-MASALAH PSIKOSOSIAL
Adalah masalah kejiwaan dan kemasyarakatan yang mempunyai pengaruh timbal balik,sebagai akibat terjadinya perubahan sosial dan atau gejolak sosial dalam masyarakat yang dapatmenimbulkan gangguan jiwa.
Contoh-contoh masalah psikosial antara lain :
a.    Psikotik Gelandangan.
b.    Pemasungan Penderita Gangguan Jiwa.
c.    Masalah Anak : Anak Jalanan, Penganiayaan Anak.
d.    Masalah Anak Remaja : Tawuran, Kenakalan.
e.    Penyalahgunaan Narkotika Dan Psikotropika.
f.    Masalah Seksual : Penyimpangan Seksual, Pelecehan Seksual, Eksploitasi Seksual.
g.    Tindak Kekerasan Sosial.
h.    Stress Pasca Trauma.
i.    Pengungsi/Migrasi.
j.    Masalah Usia Lanjut Yang Terisolir.
k.    Masalah Kesehatan Kerja : Kesehatan Jiwa di Tempat Kesrja,PenurunanProduktifitas,Stres diTempat Kerja.
l.    Dan Lain-Lain : HIV/AIDS.

D.    PSIKOTERAPI SUPORTIF TERHADAP MASALAH PSIKOSOSIAL
Psikoterapi suportif yang dapat dilakukan untuk pasien dengan masalah psikososial adalah  :
Ventilasi atau katarsis ialah membiarkan pasien mengeluarkan isi hati sesukanya. Sesudahnya biasanya ia merasa lega dan kecemasannya (tentang penyakitnya) berkurang, karena ia lalu dapat melihat masalahnya dalam proporsi yang sebenarnya. Hal ini dibantu oleh perawat dengan sikap yang penuh pengertian (empati) dan dengan anjuran. Jangan terlalu banyak memotong bicaranya (menginterupsi). Yang dibicarakan ialah kekhawatiran, impuls-impuls, kecemasan, masalah keluarga, perasaan salah atau berdosa.
Persuasiialah penerangan yang masuk akal tentang timbulnya gejala-gejala serta baik-baiknya atau fungsinya gejala-gejala itu. Kritik diri sendiri oleh pasien penting untuk dilakukan. Dengan demikian maka impuls-impuls yang tertentu dibangkitkan, diubah atau diperkuat dan impuls-impuls yang lain dihilangkan atau dikurangi, serta pasien dibebaskan dari impuls-impuls yang sangat menganggu. Pasien pelan-pelan menjadi yakin bahwa gejala-gejalanya akan hilang.
Sugestiialah secara halus dan tidak langsung menanamkan pikiran pada pasien atau membangkitkan kepercayaan padanya bahwa gejala-gejala akan hilang. Perawat sendiri harus mempunyai sikap yang meyakinkan dan otoritas profesional serta menunjukkan empati. Pasien percaya pada perawat sehingga kritiknya berkurang dan emosinya terpengaruh serta perhatiannya menjadi sempit. Ia mengharap-harapkan sesuatu dan ia mulai percaya. Bila tidak terdapat gangguan kepribadian yang mendalam, maka sugesti akan efektif, umpamanya pada reaksi konversi yang baru dan dengan konflik yang dangkal atau pada neurosa cemas sesudah kecelakaan.
Penjaminan kembaliatau reassurance dilakukan melalui komentar yang halus atau sambil lalu dan pertanyaan yang hati-hati, bahwa pasien mampu berfungsi secara adekuat (cukup, memadai). Dapat juga diberi secara tegas berdasarkan kenyataan atau dengan menekankan pada apa yang telah dicapai oleh pasien.
Bimbingan ialah memberi nasehat-nasehat yang praktis dan khusus (spesifik) yang berhubungan dengan masalah kesehatan (jiwa) pasien agar ia lebih sanggup mengatasinya, umpamanya tentang cara mengadakan hubungan antar manusia, cara berkomunikasi, bekerja dan belajar, dan sebagainya.
Penyuluhanatau konseling (counseling) ialah suatu bentuk wawancara untuk membantu pasien mengerti dirinya sendiri lebih baik, agar ia dapat mengatasi suatu masalah lingkungan atau dapat menyesuaikan diri. Konseling biasanya dilakukan sekitar masalah pendidikan, pekerjaan, pernikahan dan pribadi.
Kerja kasus sosial(social casework) secara tradisional didefinisikan sebagai suatu proses bantuan oleh seorang yang terlatih (pekerja sosial atau social worker) kepada seorang pasien yang memerlukan satu atau lebih pelayanan sosial khusus. Fokusnya ialah pada masalah luar atau keadaan sosial dan tidak (seperti pada psikoterapi) pada gangguan dalam individu itu sendiri. Tidak diadakan usaha untuk mengubah pola dasar kepribadian, tujuannya ialah hanya hendak menangani masalah situasi pada tingkat realistik (nyata).
Terapi kerjadapat berupa sekedar memberi kesibukan kepada pasien, ataupun berupa latihan kerja tertentu agar ia terapil dalam hal itu dan berguna baginya untuk mencari nafkah kelak.   

BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Psikoterapi adalah salah satu jenis pengobatan dengan cara-cara psikogenik yang dilakukan oleh seseorang yang terlatih khusus dengan berbagai macam cara dan metode yang bersifat psikogenik. Terapi ini banyak digunakan pada pasien-pasien dengan gangguan psikososial seperti gelandangan, gangguan jiwa, anak jalanan, penganiayaan anak, pengguna narkoba, masalah seksual dan sebagainya.

B.    SARAN
Adapun saran yang dapat kami berikan pada makalah ini adalah dalam melakukan psikoterapi sangatlah dibutuhkan komunikasi yang terapeutik karena dalam psikoterapi kita banyak berintaraksi dengan pasien dengan menggunakan komunikasi. Jadi sebagai perawat yang ingin melakukan psikoterapi haruslah mengasai tehnik komunikasi terapeutik yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.evms.edu/psychiatry/residency/psychotherapy.html

Maramis WF; Psikoterapi, Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa ed. 7, Airlangga University, 1998 : hal : 483-497.

Tomb, David A: Buku Saku Psikiatri, ed-6, EGC, 2004

Kaplan, Sadock’s ; Psikoterapi, Sinopsis Psikiatri, Edisi Ketujuh, Jilid 2,  hal 383 – 442.

Corey Gerald; Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, Refika Aditama.

Hukom.A.J,dr. Hypnotherapy. Yayasan Dharma Graha, 1979 :hal: 9-14

Bachtiar, Didi. Tatalaksana Psikoterapi Untuk Pasien Mental. Grafika Utama Sakti. 1977.

Elvira SD. Kumpulan Makalah Psikoterapi, Balai Penerbit FKUI, 2005: 5,7, 9.


                                                 DOWNLOAD

Makalah Imunisasi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang. Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya.
Imunisasi biasanya lebih fokus diberikan kepada anak-anak karena sistem kekebalan tubuh mereka masih belum sebaik orang dewasa, sehingga rentan terhadap serangan penyakit berbahaya. Imunisasi tidak cukup hanya dilakukan satu kali, tetapi harus dilakukan secara bertahap dan lengkap terhadap berbagai penyakit yang sangat membahayakan kesehatan dan hidup anak.
Tujuan dari diberikannya suatu imunitas dari imunisasi adalah untuk mengurangi angka penderita suatu penyakit yang sangat membahayakan kesehatan.
Teknik atau cara pemberian imunisasi umumnya dilakukan dengan melemahkan virus atau bakteri penyebab penyakit lalu diberikan kepada seseorang dengan cara suntik atau minum / telan. Setelah bibit penyakit masuk ke dalam tubuh kita maka tubuh akan terangsang untuk melawan penyakit tersebut dengan antibodi. Antibodi itu umumnya bisa terus ada di dalam tubuh orang yang telah diimunisasi untuk melawan penyakit yang mencoba menyerang.
    Tehnik pengumpulan urin adalah tehnik yang dilakukan sebelum pengambilan urine.

Hasil pemeriksaan urine tidak hanya dapat memberikan informasi tentang ginjal dan saluran kemih, tetapi juga mengenai faal berbagai organ tubuh seperti hati, saluran empedu, pancreas, dsb. Namun, untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang akurat, diperlukan specimen yang memenuhi syarat. Pemilihan jenis sampel urine, tehnik pengumpulan sampai dengan pemeriksaan harus dilakukan dengan prosedur yang benar.

1.2.Rumusan Masalah
•    Sasaran Imunisasi
•     Pembagian Imunisasi
•    Jenis-Jenis Imunisasi
•    Tehnik, waktu Pemberian serta kontraindikasi dari jenis-jenis imunisasi
•    Jenis urine
•    Cara pengambilan sampel urine clean-catch pada pasien

BAB II
PEMBAHASAN

2.1    Sasaran Imunisasi

a.    Pada bayi
Bayi berumur 0-11 bulan untuk mendapatkan vaksinasi BCG,DPT,POLIO,CAMPAK,dan HEPATITIS
b.    Pada anak-anak
Anak yang mencakup seluruh SD kelas 1-6 untuk mendapatkan vaksinasi DT. Untuk murid SD kelas 6 khususnya putrid mendapatkan imunisasi TT.
c.    Ibu hamil
Untuk mendapatkan imunisasi TT untuk mencegah terjadinya infeksi. Selama masa kehamilan mendapatkan 2 kali imunisasi TT.
Adapula imunisasi TT seumur hidup dilakukan sebanyak 5 kali dengan jangka waktu tiap bulan.
d.    Calon pengantin
Pada calon pengantin wanita di berikan imunisasi TT
Pembagian imunisasi
Berdasarkan sifatnya imunisasi terbagi atas 2,yaitu :
1.imunisasi aktif (vaksinasi)
Imunisasi aktiv adalah imunisasi yang menghasilkan antibody sehingga orang kebal terhadap penyakit infeksi, dimana kekebalan yang timbul merupakan hasil aktivitas imunologik itu sendiri.
a.    Kekebalan aktif  alami yaitu kekebalan yang di peroleh melalui infeksi klinis dan subklinis.
b.    Kekebalan aktif buatan yaitu kekebalan yang diperoleh melalui imunisasi

2.Imunisasi Pasif
Imunisasi pasif adalah pemberian serum imun yang mengandung anti bodi dibuat secara aktif oleh hewan, yang berarti : bahwa akseptor menerima sejumlah anti bodi yang telah siap pakai.
Kekebalan pasif dapat di bagi 2 yaitu :
a.    Kekebalan pasif alami yaitu kekebalan yang diperoleh secara alami. Bayi telah memiliki kekebalan, karena anti bodi ibunya dapat lolos melewati plasenta dan masuk kedalam peredaran darah atau diperoleh melalui colostrums pada saat bayi menyusu.
b.    Imunisasi pasif buatan yaitu kekebalan yang didapat dari pemberian anti bodi atau serum imun pada seseorang yang telah memiliki kekebalan misalnya: SAT(serum anti tetanus) dan SAR (serum anti rabies).
Perbedaan Imunisasi aktif dan pasif (buatan) :
Imunisasi aktif :
a.    Yang diberikan berupa vaksin antigen yaitu suatu substansi bila memasuki tubuh mampu merangsang system imunologik untuk menghasilkan respon imunitas, berupa pembentukan anti bodi
b.    Anti merangsang sistim imunologi yang secara aktif melalui anti bodi
c.    Pemberian berulang kali tidak berbahaya
d.    Ditujukan kepada orang sehat dengan tujuan membuat kebal terhadap penyakit infeksi tertentu.
e.    Karena di buat oleh tubuh sendiri, anti bodi bertahan lama dalam tubuh.
Imunisasi buatan
Yang diberikan adalah serum imun : antigen
a.    Pemberian berulang kali sangat berbahaya
b.    Menerima anti bodi sudah siap pakai/sudah jadi
c.    Di berikan pada orang sakit/di duga sedang dalam tahap permulaan perkembangan penyakit
d.    Karena di buat hewan spesies,antibody dengan cepat rusak, sehingga kekebalan yang diperoleh melalui serum hanya bertahan singkat.

2.2    Jenis-jenis vaksin

Jenis vaksin yang di gunakan di Indonesia banyak macamnya, akan tetapi pada dasarnya hanya 2 jenis, yaitu :

1.    Vaksin dari kuman hidup yang di lemahkan
a.    Virus campak dalam vaksin campak
b.    Virus polio dalam jenis sabin
c.    Kuman TBC dalam vaksin BCG
2.    Vaksin dari kuman yang di matikan
a.Bakteri pertusis dalam vaksin DPT
Virus polio dalam bentuk sal
a.    Racun kuman seperti : toksoid (TT), difteria, DPT
b.    Vaksin yang dibuat dari protein, misalnya : hepatitis B

2.4    Tehnik, waktu Pemberian serta kontraindikasi dari jenis-jenis imunisasi
a.    Imunisasi BCG
BCG atau Bacillus Cellmete Guerin,  yaitu vaksinasi yang diberikan pada bayi saat usia 0-2 bulan, fungsi dari vaksin ini adalah untuk menghindari penyakit TBC, tapi dapat mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut. Berasal dari bakteri hidup yang dilemahkan ( Pasteur Paris 1173 P2), Ditemukan oleh Calmette dan Guerin.
•    Diberikan sebelum usia 2 bulan Disuntikkan intra kutan di daerah insertio m. deltoid dengan dosis 0,05 ml, sebelah kanan
•     Vaksin BCG berbentuk bubuk kering harus dilarutkan dengan 4 cc NaCl 0,9%. Setelah dilarutkan harus segera dipakai dalam waktu 3 jam, sisanya dibuang.
•    Penyimpanan pada suhu <> 2 bulan.
•     Untuk menunjukkan apakah pernah kontak dengan TBC
•     Menyuntikkan 0,1 ml PPD di daerah flexor lengan bawah secara intra kutan
•     Pembacaan dilakukan setelah 48 – 72 jam penyuntikan
•    Diukur besarnya diameter indurasi di tempat suntikan.
Efek samping :

•     Demam ringan
•    Perasaan tidak enak pada pencernaan
•     Rekasi nyeri pada tempat suntikan.

Tidak ada kontraindikasi

b. Imunisasi Polio

POLIO adalah sejenis penyakit yang disebabkan oleh virus poliovirus dari genus enterovirus, dan menyebabkan terjadinya kelumpuhan. Cara mencegah penyakit ini adalah sering cuci tangan bila selesai beraktivitas dan juga sebelum makan. Pada bayi imunisasi polio diberikan saat lahir, usia 2 bulan, 4 bulan dan 6 bulan
•    Vaksin dari virus polio (tipe 1,2 dan 3) yang dilemahkan, dibuat dlm biakan sel-vero : asam amino, antibiotik, calf serum dalam magnesium klorida dan fenol merah.
•    Vaksin berbentuk cairan dengan kemasan 1 cc atau 2 cc dalam flacon, pipet.
•     Pemberian secara oral sebanyak 2 tetes (0,1 ml).
•     Vaksin polio diberikan 4 kali, interval 4 minggu
•    Imunisasi ulang biasa dilakukan , 1 tahun berikutnya, SD kelas I, VI
•     Anak diare ® gangguan penyerapan vaksin.

 Ada 2 jenis vaksin

–  IPV ® salk
–  OPV ® sabin ® IgA local
•    Penyimpanan pada suhu 2-8°C
•    Virus vaksin bertendensi mutasi di kultur jaringan maupun tubuh penerima vaksin
•     Beberap virus diekskresi mengalami mutasi balik menjadi virus polio ganas yang neurovirulen
•     Paralisis terjadi 1 per 4,4 juta penerima vaksin dan 1 per 15,5 juta kontak dengan penerima vaksin

b.    Imunisasi DPT

DPT atau Dipteri Pentusis Tetanus, adalah sejenis penyakit yang bersumber dari bakteri bernama Corynebacterium Diphterie, yang hidup dalam selaput lendir hidung pada saluran pernapasan,dan membentuk membran putih sehingga menyumbat pernapasan. Pemberian vaksin untuk menghindari DPT ini pada bayi saat usia 2 bulan, 4 bulan dan 6 bulan.
DPT
Terdiri dari :

– toxoid difteri ® racun yang dilemahkan
– Bordittela pertusis ® bakteri yang dilemahkan
– toxoid tetanus ® racun yang dilemahkan (+) aluminium fosfat dan mertiolat.
•    Merupakan vaksin cair. Jika didiamkan sedikit berkabut, endapan putih didasarnya.
•    Diberikan pada bayi > 2 bulan oleh karena reaktogenitas pertusis pada bayi kecil.
•     Dosis 0,5 ml secara intra muskular di bagian luar paha.
•     Imunisasi dasar 3x, dengan interval 4 minggu.
•    Vaksin mengandung Aluminium fosfat, jika diberikan sub kutan menyebabkan iritasi lokal, peradangan dan nekrosis setempat.

Reaksi pasca imunisasi:

•     Demam, nyeri pada tempat suntikan 1-2 hari ® diberikan anafilatik + antipiretik.
•     Bila ada reaksi berlebihan pasca imunisasi ® demam > 40°C, kejang, syok ® imunisasi selanjutnya diganti dengan DT atau DPaT.

Kontraindikasi :

•    Kelainan neurologis n terlambat tumbuh kembang
•     Ada riwayat kejang
•     Penyakit degenerative
•     Pernah sebelumnya divaksinasi DPT menunjukkan: anafilaksis, ensefalopati, kejang, renjatan, hiperpireksia, tangisan/teriakan hebat.

d. Imunisasi Campak
CAMPAK, adalah sejenis penyakit yang disebabkan oleh virus yang biasanya hidup pada saluran pernapasan, dan berkembang biak pada selaput lendir tenggorokan. Penyakit ini sangat menular, biasanya lewat udara. Pemberian vaksin ini saat bayi berusia 9 bulan.
Vaksin dari virus hidup (CAM 70- chick chorioallantonik membrane) yang dilemahkan + kanamisin sulfat dan eritromisin Berbentuk beku kering, dilarutkan dalam 5 cc pelarut aquades.
•    Diberikan pada bayi umur 9 bulan oleh karena masih ada antibodi yang diperoleh dari ibu.
•     Dosis 0,5 ml diberikan sub kutan di lengan kiri.
•     Disimpan pada suhu 2-8°C, bisa sampai – 20 derajat Celsius
•     Vaksin yang telah dilarutkan hanya tahan 8 jam pada suhu 2-8°C.
•     Jika ada wabah, imunisasi bisa diberikan pada usia 6 bulan, diulang 6 bulan kemudian.

Efek samping: demam, diare, konjungtivitis, ruam setelah 7 – 12 hari pasca imunisasi. Kejadian encefalitis lebih jarang.

Kontraindikasi:

•    infeksi akut dengan demam, defisiensi imunologik, tx imunosupresif, alergi protein telur, hipersensitifitas dng kanamisin dan eritromisin, wanita hamil.
•     Anak yang telah diberi transfusi darah atau imunoglobulin ditangguhkan minimal 3 bulan.
•     Tuberkulin tes ditangguhkan minimal 2 bulan setelah imunisasi campak

e.Imunisasi HIB
Hib B atau Haemophilus influenza tipe B, vaksin ini berfungsi untuk mencegah penyakit meningitis, pneumonia (radang paru) dan epiglotitis (radang tulang rawan tenggorokan). Vaksin ini diberikan pada saat bayi berusia 2 bulan, 4 bulan dan 6 bulan.
• Untuk mencegah infeksi SSP oleh karena Haemofilus influenza tipe B
• Diberikan MULAI umur 2-4 bulan, pada anak > 1 tahun diberikan 1 kali
• Vaksin dalam bentuk beku kering dan 0,5 ml pelarut dalam semprit.
• Dosis 0,5 ml diberikan IM
• Disimpan pada suhu 2-8°C
• Di Asia belum diberikan secara rutin
• Imunisasi rutin diberikan di negara Eropa, Amerika, Australia.
f. Imunisasi MMR
MMR atau mumps, morbili, rubella, sejenis penyakit yang disebabkan oleh virus, yang mengakibatkan penyakit gondongan. Pemberian vaksin ini umumnya diberikan di atas 12 bulan.
Merupakan vaksin hidup yang dilemahkan terdiri dari:
– Measles strain moraten (campak)
– Mumps strain Jeryl lynn (parotitis)
– Rubela strain RA (campak jerman)
•    Diberikan pada umur 15 bulan. Ulangan umur 12 tahun
•     Dosis 0,5 ml secara sub kutan, diberikan minimal 1 bulan setelah suntikan imunisasi lain.

Kontra indikasi:
wanita hamil, imuno kompromise, kurang 2-3 bulan sebelumnya mendapat transfusi darah atau tx imunoglobulin, reaksi anafilaksis terhadap telur.
g. Imunisasi Thypus
Tersedia 2 jenis vaksin :

–  suntikan (typhim) ® >2 tahun
–  oral (vivotif) ® > 6 tahun, 3 dosis
•    Typhim (Capsular Vi polysaccharide-Typherix) diberikan dengan dosis 0,5 ml secara IM. Ulangan dilakukan setiap 3 tahun.
•     Disimpan pada suhu 2-8°C
•     Tidak mencegah Salmonella paratyphi A atau B
•     Imunitas terjadi dalam waktu 15 hari sampai 3 minggu setelah imunisasi

Reaksi pasca imunisasi: demam, nyeri ringan, kadang ruam kulit dan eritema, indurasi tempat suntikan, daire, muntah.

h. Imunisasi Varicella

VARISELA, adalah imunisasi yang ditujukan untuk mencegah penyakit cacar air yang disebabkan oleh virus varisela. Pemberian vaksin ini pada bayi berusia diatas 1 tahun.
Vaksin varicella (vaRiLrix) berisi virus hidup strain OKA yang dilemahkan. Bisa diberikan pada umur 1 tahun, ulangan umur 12 tahun. Vaksin diberikan secara sub kutan Penyimpanan pada suhu 2-8°C

Kontraindikasi:
demam atau infeksi akut, hipersensitifitas terhadap neomisin, kehamilan, tx imunosupresan, keganasan, HIV, TBC belum tx, kelainan darah.
Reaksi imunisasi sangat minimal, kadang terdapat demam dan erupsi papulo-vesikuler.
i. Imunisasi Hepatitis A
Imunisasi diberikan pada daerah kurang terpajan, pada anak umur > 2 tahun. Imunisasi dasar 3x pada bulan ke 0, 1, dan 6 bulan kemudian. Dosis vaksin (Harvix-inactivated virus strain HM 175) 0,5 ml secara IM di daerah deltoid. Reaksi yag terjadi minimal kadang demam, lesu, lelah, mual-muntah dan hialng nafsu makan.
Jenis urine
Jenis sampel urine :
•    Urine sewaktu/urine acak (random)
Urine sewaktu adalah urine yang dikeluarkan setiap saat dan tidak ditentukan secara khusus. Mungkin sampel encer, isotonik, atau hipertonik dan mungkin mengandung sel darah putih, bakteri, dan epitel skuamosa sebagai kontaminan. Jenis sampel ini cukup baik untuk pemeriksaan rutin tanpa pendapat khusus.
•    Urine pagi
Pengumpulan sampel pada pagi hari setelah bangun tidur, dilakukan sebelum makan atau menelan cairan apapun. Urine satu malam mencerminkan periode tanpa asupan cairan yang lama, sehingga unsur-unsur yang terbentuk mengalami pemekatan. Urine pagi baik untuk pemeriksaan sedimen dan pemeriksaan rutin serta tes kehamilan berdasarkan adanya HCG (human chorionic gonadothropin) dalam urine.
•    Urine tampung 24 jam
Urine tampung 24 jam adalah urine yang dikeluarkan selama 24 jam terus-menerus dan dikumpulkan dalam satu wadah. Urine jenis ini biasanya digunakan untuk analisa kuantitatif suatu zat dalam urine, misalnya ureum, kreatinin, natrium, dsb. Urine dikumpulkan dalam suatu botol besar bervolume 1.5 liter dan biasanya dibubuhi bahan pengawet, misalnya toluene.

. 2.5 Cara pengumpulan urine 24 jam adalah :
•    Pada hari pengumpulan, pasien harus membuang urin pagi pertama. Catat tanggal dan waktunya. Semua urine yang dikeluarkan pada periode selanjutnya ditampung.
•    Jika pasien ingin buang air besar, kandung kemih harus dikosongkan terlebih dahulu untuk menghindari kehilangan air seni dan kontaminasi feses pada sampel urin wanita.
•    Keesokan paginya tepat 24 jam setelah waktu yang tercatat pada wadah, pengumpulan urin dihentikan.
•    Spesimen urine sebaiknya didinginkan selama periode pengumpulan.
•   
Biakan Urine

Spesimen urine apabila ditampung secara benar mempunyai nilai diagnostic yang besar, tetapi bila tercemar oleh kuman yang bersal dari urethra atau peritoneum dapat menyebabkan salah penafsiran. Sampel urine acak cukup baik untuk biakan kuman. Namun, bila specimen urine acak tidak menunjukkan pertumbuhan, urine pekat atau urine pagi dapat digunakan.

Sampel urine yang dikumpulkan adalah urine midstream clean-catch. Biakan kuman dengan sampel ini dapat menentukan diagnosis secara teliti pada 80% penderita wanita dan hampir 100% penderita pria, apabila lubang uretra dibersihkan sesuai persyaratan. Urine clean-catch adalah spesimen urin midstream yang dikumpulkan setelah membersihkan meatus uretra eksternal. Urine jenis ini biasanya digunakan untuk tes biakan kuman (kultur). Sebelum mengumpulkan urine, pasien harus membersihkan daerah genital dengan air bersih atau steril. Jangan gunakan deterjen atau desinfektan. Tampung urine bagian tengah ke dalam wadah yang steril. Kumpulkan urin menurut volume direkomendasikan, yaitu 20 ml untuk orang dewasa dan 5-10 ml untuk anak-anak.

Pada keadaan yang mengharuskan kateter tetap dibiarkan dalam saluran kemih dengan sistem drainase tertutup, urine untuk biakan dapat diperoleh dengan cara melepaskan hubungan antara kateter dengan tabung drainase atau mengambil sampel dari kantung drainase.

Bila tidak memungkinkan memperoleh urine yang dikemihkan atau bila diduga terjadi infeksi dengan kuman anaerob, aspirasi suprapubik merupakan cara penampungan yang paling baik.

Spesimen yang menunjukkan pertumbuhan lebih dari satu jenis kuman, dianggap sebagai tercemar, kecuali pada penderita dengan kateter yang menetap
2.5    Tehnik pengambilan sampel urine clean-catch

pada pasien wanita :
•    Pasien harus mencuci tangannya dengan memakai sabun lalu mengeringkannya dengan handuk, kain yang bersih atau tissue.
•    Tanggalkan pakaian dalam, lebarkan labia dengan satu tangan
•    Bersihkan labia dan vulva menggunakan kasa steril dengan arah dari depan ke belakang
•    Bilas dengan air bersih dan keringkan dengan kasa steril yang lain.
•    Selama proses ini berlangsung, labia harus tetap terbuka dan jari tangan jangan menyentuh daerah yang telah dibersihkan.
•    Keluarkan urine, aliran urine yang pertama dibuang. Aliran urine selanjutnya ditampung dalam wadah steril yang telah disediakan. Pengumpulan urine selesai sebelum aliran urine habis. Diusahakan agar urine tidak membasahi bagian luar wadah.
•    Wadah ditutup rapat dan segera dikirim ke laboratorium.
Tehnik pengambilan urine clean-catch pada pasien pria :
•    Pasien harus mencuci tangannya dengan memakai sabun lalu mengeringkannya dengan handuk, kain yang bersih atau tissue.
•    Jika tidak disunat, tarik preputium ke belakang. Keluarkan urine, aliran urine yang pertama dibuang. Aliran urine selanjutnya ditampung dalam wadah steril yang telah disediakan. Pengumpulan urine selesai sebelum aliran urine habis. Diusahakan agar urine tidak membasahi bagian luar wadah.
•    Wadah ditutup rapat dan segera dikirim ke laboratorium
Aspirasi jarum suprapubik transabdominal kandung kemih merupakan cara mendapatkan sampel urine yang paling murni. Pengumpulan urine aspirasi suprapubik harus dilakukan pada kandung kemih yang penuh.
•    Lakukan desinfeksi kulit di daerah suprapubik dengan Povidone iodine 10% kemudian bersihkan sisa Povidone iodine dengan alkohol 70%
•    Aspirasi urine tepat di titik suprapubik dengan menggunakan spuit
•    Diambil urine sebanyak ± 20 ml dengan cara aseptik/suci hama (dilakukan oleh petugas yang berkompenten)
•    Masukkan urine ke dalam wadah yang steril dan tutup rapat.
•    Segera dikirim ke laboratorium.

BAB III
PENUTUP

3.1. kesimpulan

Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang.
 Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya.
Tujuan dari diberikannya suatu imunitas dari imunisasi adalah untuk mengurangi angka penderita suatu penyakit yang sangat membahayakan kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian pada penderitanya. Beberapa penyakit yang dapat dihindari dengan imunisasi yaitu seperti hepatitis B, campak, polio, difteri, tetanus, batuk rejan, gondongan, cacar air, tbc, dan lain sebagainya.

    Tehnik pengumpulan urine adalah tehnik yang digunakan untuk  mengambil spesimen urine.
 Hasil pemeriksaan urine tidak hanya dapat memberikan informasi tentang ginjal dan saluran kemih, tetapi juga mengenai faal berbagai organ tubuh seperti hati, saluran empedu, pancreas, dsb. Hasil pemeriksaan urine tidak hanya dapat memberikan informasi tentang ginjal dan saluran kemih, tetapi juga mengenai faal berbagai organ tubuh seperti hati, saluran empedu, pancreas, dsb.

3.2. saran

Meskipun seorang anak sudah mendapatkan imunisasi secara lengkap, bukan berarti ia tidak akan tertular penyakit, namun penyakitnya lebih ringan dan tidak terlalu berbahaya. “Dampak dari penyakitnya lebih ringan, kemungkinan meninggal, cacat dan lumpuh juga bisa dihindari,”kata dokter yang juga menjadi Satgas Imunisasi PP IDAI ini.
Pilihan memang ada di tangan orangtua, tetapi bagaimanapun tugas orangtua adalah untuk melindungi anaknya,dan imunisasi adalah cara yang penting untuk mencegah si kecil dari serangan penyakit. Bukankah mencegah lebih baik dari mengobati?
   
DAFTAR PUSTAKA

Kapita selekta kedokteran jilid 1,edisi 3
www.google.com

Tuesday, 25 October 2016

Makalah Distosia Bahu

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Setelah kelahiran kepala, akan terjadi perputaran lagi paksi luar yang menyebabkan kepala berada pada sumbu normal dengan tulang belakang. Bahu pada umumnya akan berada pada sumbu miring (oblique) dibawah ramus publis. Dorongan saat ibu mengedan akan menyebabkan bahu depan (anterior) berada dibawah pubis. Bila bahu gagal untuk mengadakan putaran menyesuaikan dengan sumbu miring panggul dan tetap berada pada posisi anterior posterior, pada bayi yang besar akan terjadi benturan bahu depan terhadap simfisis.

Distosia bahu terutama disebabkan oleh deformitas panggul, kegagalan bahu untuk “melipat” kedalam panggul (misal pada makrosomia) disebabkan oleh fase aktif dan persalinan kala II yang pendek pada multipara sehingga kepala yang terlalu cepat menyebabkan bahu tidak melipat pada saat melalui jalan lahir atau kepala telah melalui pintu tengah panggul setelah mengalami pemanjangan kala II sebelum bahu berhasil melipat masuk kedalam panggul.
Janin besar adalah bila berat badan melebihi dari 4000 gram. Frekuensi bayi yang lahir dengan badan lebih dari 4000 gram adalah 5,3 % dan yang lebih dari 4500 gram adalah 0,4 %. Pernah dilaporkan berat bayi lahir pervaginam 10,8 – 11,3 Kg (Lewellpyn, 2001).

B.    Tujuan
1.    Tujuan Umum
    Agar pembaca dapat mengetahui tentang persalinan yang patologis khususnya persalinan dengan distosia bahu dan dapat mengetahui cara menangani bila mendapatkan kasus distosia bahu.
2. Tujuan Khusus
a. Agar mahasiswa dapat mengetahui tentang distosia bahu
b. Agar tidak terjadi kesalahan dalam mendiagnosis suatu tindakan
c. Agar dapat melakukan segera dalam penanganannya.
Manfaat Penulisan
Bagi peneliti / mahasiswa
- Meningkatkan pengetahuan dan teori serta praktek
- Mahasiswi bisa lebih kompeten dalam memberi asuhan kebidanan

Bagi Petugas

     Mengurangi angka kematian maternal dan neonatal
     Mendeteksi dini kemungkinan adanya penyulit / masalah dalam persalinan Bagi Ibu / masyarakat
     Meningkatkan kesadaran diri terhadap ibu agar memeriksakan dirinya secara rutin pada waktu  kehamilan agar dapat mengetahui adanya komplikasi pada ibu dan janinnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Defenisi

Distosia ialah kesulitan dalam jalannya persalinan atau dapat didefenisikan Distosia ialah persalinan atau abnormal yang timbul akibat berbagai kondisi yang berhubungan dengan lima faktor persalinan, yaitu :
1.    Persalinan disfungsional akibat kontraksi uterus yang efektif atau akibat upaya mengedan ibu (kekuatan power).
2.    Perubahan struktur pelvis (jalan lahir / passage)
3.    Sebab-sebab pada janin, meliputi kelainan presentasi atau kelainan posisi, bayi besar dan jumlah bayi (penumpang/passenger).
4.    Posisi ibu selama persalinan dan melahirkan
5.    Respons psikologi ibu terhadap persalinan yang berhubungan dengan pengalaman, budaya dan warisannya sistem pendukung.
Dalam kepustakaan tercatat ada janin yang dapat dilahirkan secara pervaginam tetapi meninggal yaitu seberat 11,3 Kg (Belcher) dan 11 Kg (Moss). Dan janin yang lahir dan hidup tercatat seberat 10,8 Kg (Barnes) tetapi anak ini hanya hidup kira-kira 11 jam (Rustam, 1998).
B. Klasifikasi
Distosia karena kelainan tenaga
Distosia karena kelainan letak serta bentuk janin.
Distosia karena kelainan panggul
Distosia karena kelainan traktus genitalis (Hanifah, 2006).
C.Etiologi

    Faktor-faktor penyebab dari Distosia bahu bermacam-macam antara lain : kehamilan
postern, paritas wanita hamil dengan diabetes melitus dan hubungan antara ibu hamil yang
makannya banyak bertambah besarnya janin masih diragukan.

Adapun penyebab lain dari Distosia bahu, yaitu :
1.    Kehamilan postern
2.    Wanita-wanita yang habitus indolen
3.    Anak-anak berikutnya selalu lebih besar dari anak terdahulu
4.    Orang tua yang besar
5.    Eritroblastosis
6.    Diabeter Melitus
     Diagnosis dapat ditegakkan dengan :
•    Anamnesi    s
•    Pemeriksaan

D. Diagnosis
Menentukan apakah bayi besar atau tidak kadang-kadang sulit.
Hal ini dapat diperkirakan dengan cara :
1.    Keterunan atau bayi yang lahir terdahulu besar dan sulit melahirkan dan adanya diabetes melitus
2.    Kenaikan berat badan yang berlebihan tidak oleh sebab lainnya (eodem dan sebagainya)
3.    Pemeriksaan teliti tentang disproporsi Sefalo atau Feto-pelvik dalam hal ini dianjurkan untuk mengukur kepala bayi dengan ultrasonografi
4.    Kepala janin dapat dilahirkan tetapi tetap berada dekat vulva
5.    Tarikan kepala gagal melahirkan bahu yang terperangkap dibelakang simfisi pubis.

E.    Prognosis

     Pada panggul normal janin dengan berat badan kurang dari 4500 gram pada umumnya tidak menimbulkan kesukaran persalinan. Kesukaran dapat terjadi karena kepala yang besar atau kepala yang lebih keras (pada post maturitas) tidak dapat memasuki pintu atas panggul atau karena bahu yang lebar sulit melalui rongga panggul. Bahu yang lebar selain dijumpai pada janin besar juga dijumpai pada anensefalus. Apabila kepala anak sudah lahir tetapi kelahiran bagian-bagian lain macet karena lebarnya bahu, janin dapat meninggal akibat asfiksia. Menarik kepala kebawah terlalu kuat dalam pertolongan melahirkan bahu yang sulit dapat berakibat perlukaan pada nervus brokhialis & muskulus sternokleidomastoidelis.

F.    Komplikasi
1. Pada Ibu
a)    Partus lama yang sering kali disertai pecahnya ketuban pada pembukaan kecil, dapat menimbulkan dehirasi serta asidosis dan infeksi intrapartum.
b)    Dengan his yang kuat, sedang janin dalam jalan lahir tertahan, dapat menimbulkan regangan segmen bawah uterus dan pembentukan lingkaran retraksi patologis (Bandl).
c)    Dengan persalinan yang tidak maju karena disproporsi sefalopelvik, jalan lahir pada suatu tempat mengalami tekanan yang lama antara kepala janin dan tulang panggul.
    2. Pada Bayi
•     Partus lama dapat meningkatkan kematian perinatal apalagi jika ditambah dengan infeksi intrapartum.

•     Propalus funikuli, apabila terjadi mengandung bahaya yang sangat besar bagi janin dan memerlukan kelahirannya dengan segala apabila ia masih hidup.

•    Dengan adanya disproporsi sefalopelvik kepala melewati rintangan pada panggul dengan mengadakan moulge.

•    Selanjutnya tekanan oleh promontarium atau kadang-kadang oleh simfisis pada panggul picak menyebabkan perlukaan pada jaringan diatas tulang kepala janin, malahan dapat pula menimbulkan  fraktur pada os parietalis (Hanifah, 2002).

G.    .Penanganan
1)    Pada kesukaran melahirkan bahu dan janin hidup dilakukan episiotomi yang cukup lebar dan janin diusahakan lahir atau bahu diperkecil dengan melakukan kleidotomi unilateral atau bilateral.
2)    Dalam posisi ibu berbaring terlentang, mintalah ia untuk menekuk kedua tungkainya dan mendekatkan lututnya sejauh mungkin ke arah dadanya. Mintalah bantuan dua orang asisten untuk menekan fleksi kedua lututnya ibu ke arah dada.
3)     Dengan memakai sarung tangan yang telah didisinfektankan tingkat tinggi

Lakukan tarikan yang kuat dan terus menerus ke arah bawah pada kepala janin untuk menggerakkan bahu depan dibawah simfisi pubis.
Catatan : Hindari tarikan yang berlebihan pada kepala yang dapat mengakibat trauma pada pleksus brakhralis.
Mintalah seseorang asisten untuk melakukan tekanan secara srimultan kearah bawah pada daerah supra pubis untuk membantu persalinan bahu.
Catatan : jangan lakukan tekanan fundus. Hal ini dapat mempengaruhi bahu lebih lanjut dan dapat mengakibatkan ruptura uteri.
4)Jika bayi masih belum dapat dilahirkan :
•    Pakailah sarung tangan yang telah didisinfektan tingkat tinggi, masukkan tangan kedalam vagina.
•    Lakukan penekanan pada bahu yang terletak didepan dengan arah sternum bayi untuk memutar bahu dan mengecilkan diameter bahu.
•    Jika diperlukan, dilakukan penekanan pada bahu belakang sesuai dengan arah sternum.
5) Jika bahu masih belum dapat dilahirkan setelah dilakukan tindakan diatas   
•    Masukkan tangan kedalam vagina
•    Raih humerus dari lengan belakang dan dengan menjaga lengan tetap fleksi pada siku, gerakkan lengan ke arah dada.
6)Jika semua tindakan di atas tetap tidak dapat melahirkan bahu, pilihan lain adalah :
•    Patahkan klavikula untuk mengurangi lebar bahu dan bebaskan bahu depan.
•    Lakukan tarikan dengan mengait ketiak untuk mengeluarkan lengan belakang (Ida Bagus, 2001) aktur pada os parietalis (Hanifah, 2002).

BAB II
PENUTUP

A. Kesimpulan
•    Distosia adalah kesulitan dalam jalannya persalinan
•    Klasifikasi Distosia bahu
•    Distosia karena kelainan tenaga
•    Distosia karena kelainan tenaga
•    Distosia karena kelainan letak serta bentuk janin.
•    Distosia karena kelainan panggul
•    Distosia karena kelainan traktus genitalis.
Penyebab
•    Kehamilan postern
•    Wanita-wanita yang habitus indolen
•    Anak-anak berikutnya selalu lebih besar dari anak terdahulu
•    Orang tua yang besar
•    Eritroblastosis
•    Diabeter Melitus
Diagnosis dapat ditegakkan dengan :
•    Anamnesis
•    Pemeriksaan
Prognosis
Pada panggul normal janin dengan berat badan 4000 – 4500 gram, tidak akan menimbulkan kesukaran persalinan. Distosia akan diperoleh bila janin lebih besar dari 4500 – 5000 gram.
Penanganan
Dapat dilakukan dengan episiotomi dan penanganan media yang lain.
B.    Saran

1. Ibu Hamil

Diharapkan kepada ibu selama dalam masa kehamilan agar melakukan kunjungan / pemeriksaan kehamilan, untuk mengetahui perubahan berat badan pada ibu dan bayi bertambah atau tidak sesuai dengan usia kehamilan ataupun ibu yang mengalami riwayat penyakit sistematik. Agar nantinya bisa didiagnosa apakah ibu bisa bersalin dengan normal atau tidak.

2.    Petugas Kesehatan

Diharapkan kepada tenaga kesehatan khususnya bidan agar mampu menekan AKI/AKB dengan cara mengurangi komplikasi-komplikasi yang terjadi pada ibu hamil.

3. Penulis

Agar dapat meningkatkan pengetahuan maupun wawasan pembelajaran serta pengalaman dalam praktek asuhan kebidanan. Khususnya mengenai asuhan kebidanan ibu bersalin dengan komplikasi seperti distosia bahu.
4. Institusi Pendidikan

Diharapkan dapat menjadi bahan kajian maupun referensi dalam menambah khazanah perpustakaan

DAFTAR PUSTAKA
http://onlinelibraryfree.com
Llwenllyn – Jones, Derek. Dasar-dasar Obstetri dan Ginekologi. Edisi 6 Jakarta : Hipokrates, 2001
Mochtar Rustam, (1998) Sinopsis Obstetri 2 Penerbit Buku Kedokteran EGC Jakarta: 2006
Winkjosastro, Hanifah. Ilmu Kebidanan. Edisi 3 Penerbit Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta : 2006.
Winkjosastro, Hanifah. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta : 2002.
Manuaba, Ida Bagus Gde. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstertri Ginekologi dan Keluarga Berencana, EGC. Jakarta : 2005.