Proposal kesehatan "FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT KECEMASAN IBU HAMIL DALAM MENGHADAPI PROSES PERSALINAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TOMIA INDUK KABUPATEN WAKATOBI TAHUN 2014"


PROPOSAL PENELITIAN

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT
KECEMASAN IBU HAMIL DALAM MENGHADAPI PROSES
PERSALINAN DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS TOMIA INDUK
KABUPATEN WAKATOBI
TAHUN 2014

asmanurs3.blogspot.com

NUR ASFIATI
NIM: 13010100


PROGRAM STIDI S-1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) IST BUTON
BAUBAU
2014

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kehamilan merupakan episode dramatis terhadap kondisi biologis, perubahan psikologis dan adaptasi dari seorang wanita yang pernah mengalaminya. Sejak saat hamil, ibu sudah mengalami kecemasan. Kecemasan meningkat menjelang persalinan terutama pada trisemester III (Astria, 2009).
Didunia dalam setiap menit, sebanyak 380 perempuan menjadi hamil, 190 orang diantaranya mengalami kehamilan yang tidak diharapkan, 110 orang mengalami komplikasi kehamilan dan satu orang ibu meninggal. WHO memperkirakan bahwa sekitar 15 persen dari seluruh ibu hamil akan mengalami komplikasi yang berkaitan dengan kehamilan dan persalianan (Alwih, 2006).
Berdasarkan hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 menyebutkan Angka Kematian Ibu (AKI) saat persalinan adalah 228 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI, 2007). Sedangkan menurut Saifuddin (2006) 90 persen kematian ibu terjadi pada saat kehamilan dan persalinan, diantaranya disebabkan oleh perdarahan (28 persen), eklamsia (24 persen), infeksia (11 persen), komplikasi puerperium (11 persen), abortus (5 persen), trauma obstetric (5 persen), partus lama/macet (4 persen), serta lainnya (2 persen).
Bagi seorang ibu hamil, ketika menjelang persalinan cenderung mengalami kecemasan. Apabila rasa cemas berlebihan, hal ini dapat menghambat dilatasi serviks normal, sehingga mengakibatkan partus lama dan meningkatkan persepsi nyeri (Bobak, 2005). Bulan september sampai november 2009, seksi pelayanan khusus Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan RS jiwa Bandung, RS jiwa Cimahi, dan bagian psikiatri  FKUP/RSHS melakukan survei kesahan jiwa pada ibu hamil di 112 Pusat kesehatan masyarakat di 24 Kabupaten Provinsi Jawa Barat, hasil penelitian ini menunjukan 798 orang atau 27 persen dari 2.928 responden ibu hamil menunjukan tanda gangguan psikiatri berupa kecemasan menjelang persalinan  (Dinkes Jawa Barat, 2009).
Kecemasan ibu hamil menjelang persalinan dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya usia ibu hamil, paritas dan dukungan keluarga. Kehamilan pada usia kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun akan memberi dampak terhadap perasaan takut dan cemas menjelang persalinan, karena usia ini merupakan usia kategori kehamilan beresiko tinggi dan seorang ibu yang berusia lebih lanjut akan menanggung resiko yang semakin tinggi untuk melahirkan bayi cacat lahir (Susiaty, 2008).
Paritas dapat mempengaruhi kecemasan, karena terkait dengan aspek psikologis. Pada ibu yang pertama kali melahirkan, belum ada bayangan mengenai apa yang akan terjadi saat bersalin dan ketakutan karena sering mendengar cerita mengerikan dari teman atau kerabat tentang pengalaman saat melahirkan seperti seorang ibu atau bayi meninggal dan ini akan mempengaruhi persepsi ibu mengenai proses persalinan yang menakutkan. Menurut Astuti (2008), jangankan persalinan pertama pada persalinan kelima pun masih wajar bila ibu merasa cemas. Sedangkan pada multigravida perasaannya terganggu diakibatkan karena rasa takut, tegang dan menjadi cemas oleh bayangan rasa sakit yang dideritanya dulu sewaktu melahirkan (Amalia, 2009). Dukungan dari keluarga juga dapat mempengaruhi kecemasan ibu hamil menjelang persalinan. Dukungan yang diberikan pada ibu, terutama dukungan yang diperoleh dari suami akan menimbulkan perasaan tenang, senang, sikap positif terhadap diri sendiri dan kehamilannya sampai saat persalinan tiba (Astria, 2009).
Umur dan paritas berpengaruh terhadap kecemasan ibu hamil menjelang persalinan dan ini telah dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh Zamriati (2013), disamping itu Rahma (2011) telah membuktikan adanya hubungan yang bermakna anatara dukungan keluarga dengan kecemasan ibu primigravida dalam menghadapi proses persalinan.
Pusat Kesehatan Masyarakat Tomia Induk Kecamatan Tomia merupakan Pusat Kesehatan Masyarakat dengan jumlah sasaran ibu hamil terbanyak di 8 Pusat Kesehatan Masyarakat di Kabupaten Wakatobi. Jumlah sasaran ibu hamil tahun 2012 terdapat 209 (7,42 persen) ibu hamil dan pada tahun 2013 terdapat 211 (8,56 persen) ibu hamil (Dinkes Kab. Wakatobi, 2012 dan 2013).
Dari data yang diperoleh pada ruang PONEC Pusat Kesehatan Masyarakat di Wilayah Kerja Pusat Kesehatan Masyarakat Tomia Induk pada bulan maret 2014 untuk kunjungan ibu hamil yaitu mencapai 49 orang, terdiri dari 7 orang ibu hamil trimester I, 8 orang ibu hamil trimester II, dan 34 orang ibu hamil trimester III.
Berdasarkan pengambilan data awal yang dilakukan pada bulan maret tahun 2014, data yang peneliti peroleh dari 7 orang ibu hamil trimester III, rata-rata mengatakan merasa cemas dalam menjelang persalinan. Penyebab kecemasan itu umumnya dikarenakan mereka yang merupakan kehamilan pertama, namun ada pula yang mengatakan karena takut perdarahan, dan juga takut akan keselamatan anak dan dirinya kedepan.
Berdasarkan uraian tersebut diatas maka dilaksanakan penelitian dengan judul  “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Kecemasan Ibu Hamil dalam Menghadapi Proses Persalinan di Wilayah Kerja Pusat Kesehatan Masyarakat Tomia Induk Kabupaten Wakatobi Tahun 2014”.
B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka masalah dalam penelitian ini adalah “apakah ada hubungan umur, paritas dan dukungan keluarga Terhadap Tingkat Kecemasan Ibu Hamil dalam Menghadapi proses Persalinan Di Wilayah Kerja Pusat Kesehatan Masyarakat Tomia Induk Kabupaten Wakatobi Tahun 2014”.
C.    Tujuan Penelitian
1.    Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan Tingkat Kecemasan Ibu Hamil dalam Menghadapi proses  Persalinan di Wilayah Kerja Pusat Kesehatan Masyarakat Tomia Induk Kabupaten Wakatobi Tahun 2014
2.    Tujuan khusus
a.    Diketahuinya hubungan umur dengan tingkat kecemasan ibu Hamil dalam menghadapi proses persalinan di Wilayah Kerja Pusat Kesehatan Masyarakat Tomia Induk Kabupaten Wakatobi Tahun 2014
b.    Diketahuinya hubungan paritas dengan tingkat kecemasan ibu Hamil dalam menghadapi proses persalinan di Wilayah Kerja Pusat Kesehatan Masyarakat Tomia Induk Kabupaten Wakatobi Tahun 2014
c.    Diketahui hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan ibu dalam menghadapi proses persalinan di Wilayah Kerja Pusat Kesehatan Masyarakat Tomia Induk Kabupaten Wakatobi Tahun 2014.
D.    Manfaat Penelitian
1.    Manfaat Ilmiah
Menambah pengetahuan dan wawasan, serta bahan dalam penerapan ilmu metode penelitian, khususnya dibidang maternitas serta dapat dijadikan bahan perbandingan untuk peneliti selanjutnya.
2.    Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan khususnya tentang keperawatan maternitas, serta bahan dalam penerapan ilmu metode penelitian, khususnya mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat kecemasan ibu dalam  menghadapi proses persalinan.
3.    Manfaat Praktis
Penelitian ini dapat dijadikan bahan untuk meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan maternitas pada ibu hamil di pusat kesehatan masyarakat Tomia Induk Kabupaten Wakatobi, khususnya dalam memberikan informasi tentang kehamilan dan kecemasan menjelang persalinan.

BAB II   
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Tinjauan Umum Kunsep Dasar Kehamilan
1.    Definisi Kehamilan
Hamil adalah sebuah proses yang diawali dengan keluarnya sel telur yang matang pada saluran telur yang kemudian bertemu dengan sperma dan keduanya menyatu membentuk sel yang akan tumbuh (Mochtar, 2006).
Proses kehamilan merupakan mata rantai kesinambungan, masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya kehamilan normal kira-kira 280 hari (40 minggu) sampai 300 hari (42 minggu) yang terhitung dari haid terakhir. Kehamilan 40 minggu disebut kehamilan cukup bulan, bila kehamilan lebih dari 42 minggu disebut kehamilan post matur. Kehamilan dibagi tiga fase yaitu trimester I (0 – 12  minggu), trimester II (antara 12 – 28 minggu) dan trimester III (antara 20 – 40 minggu)(Mochtar, 2006).
2.    Tanda dan Gejala Kehamilan
Pada wanita hamil terdapat tanda dan gejala yaitu amenore (wanita hamil yang tidak haid lagi), nausea (enek), mengidam (menginginkan makanan atau minuman tertentu), pingsan, payudara membesar dan tegang, anoreksia (tidak nafsu makan), sering kencing, obstipasi (sulit buang air besar), pigmentasi kulit (biasanya terjadi pada pipi, hidung dan dahi) (Winkjosastro, 2006).
B.    Tinjauan Umum Konsep Dasar Persalinan
1.    Definisi Persalinan
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (Mannuaba, 2006).
2.    Jenis Persalinan
Menurut caranya persalinan dibagi menjadi dua yaitu partus biasa (normal) disebut juga partus spontan adalah proses lahirnya bayi pravagina dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam. Luar biasa (abnormal) ialah partus persalinan pervagina dengan bantuan alat-alat atau melalui dinding perut dengan operasi caesarea (Mochtar, 2006).
Menurut tua atau umur kehamilan, persalinan dibagi menjadi:
a.    Abortus (keguguran) adalah terhentinya kehamilan sebelum janin dapat hidup (viable), berat janin dibawah 100 gram, tua kehamilan di bawah 28 minggu
b.    Partus prematurus adalah persalinan dengan hasil konsepsi pada kehamilan 28-36 minggu, janin dapat hidup tetapi prematur, berat janin diatas 1000-2500 gram
c.    Partus maturus atau aterm (cukup bulan) adalah partus pada kehamilan 37-40 minggu, janin matur, berat badan diatas 2500 gram
d.    Partus postmaturus (serotunis) adalah persalinan yang terjadi dua minggu atau lebih dari waktu partus yang ditaksir (postmatur)
e.    Partus presipalatus adalah partus yang berlangsung cepat, mungkin dikamar mandi, diatas becak, dan sebagainya
f.    Partus percobaan adalah suatu penilaian kemajuan persalinan untuk memperoleh bukti tentang ada atau tidaknya disporposi sefalopelfik (Mochtar, 2006)
3.    Tanda-Tanda Permulaan Persalinan
Tanda-tanda permulaan persalinan yaitu lightening atau settling yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul terutama pada  primigravida sedangkan multipara tidak begitu kentara, perut kelihatan lebih melebar dan fundus uteri lebih turun, perasaan sering-sering atau susah kencing (polakisuria) karena kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin, perasaan sakit diperut dan pinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi lemah dari uterus, serviks menjadi lembek, mulai mendatar dan sekresinya bertambah sehingga bercampur darah (Mochtar, 2006).
Tanda-tanda inpartu yaitu rasa sakit oleh adanya his  yang datang lebih kuat dan teratur, keluar lendir bercampur darah (show) yang lebih banyak karena robekan-robekan kecil pada serviks, pada pemeriksaan dalam, serviks mendatar, pembukaan telah ada (Mannuaba, 2006)

4.    Mekanisme Persalinan
a.    Persalinan kala I (kala pembukaan)
Kala I (kala pembukaan) berlangsung antara pembukaan nol sampai pembukaan lengkap. Pada permulaan his, kala pembukaan berlangsung tidak begitu kuat sehingga parturien masih dapat berjalan-jalan. Lamanya kala I untuk primigvida berlangsung sekitar 12 jam sedangkan  multigravida sekitar 8 jam. Berdasarkan kurve friedman, diperhitungkan pembukaan primigravida 1cm/jam dan pembukaan multigravida 2 cm /jam (mannuaba, 2006).
Kala I terdiri dari dua fase yaitu fase laten dan fase aktif. Fase laten terjadi pembukaan serviks berlangsung lambat sampai pembukaan 3 cm berlangsung 7-8 jam. Fase aktif berlangsung selam 6 jam dan dibagi dalam tiga subfase, yaitu akselerasi  berlangsung 2 jam dan pembukaan menjadi 4 cm, dilatasi maksimal selam 2 jam dan pembukaan berlangsung cepat menjadi 9 cm, deselerasi berlangsung selama 2 jam menjadi 10 cm atau lengkap (Mannuaba, 2006).
b.    Persalinan kala II (kala pengusiran)
Gejala uatama kala II (pengusiran) adalah sebagai berikut:
1)    His semakin kuat dengan interval 2 - 3 menit, dengan durasi 50-100 detik
2)    menjelang akhir kala I ketuban pecah yang ditandai dengan pengeluaran cairan secara mendadak
3)    ketuban pecah pada pembukaan mendekati lengkap diikuti keinginan mengejan karena tertekan fleksus frakenhouser
4)    kedua kekuatan, his dengan mengejan lebih mendorong kepala bayi sehingga terjadi ; a) kepala membuka pintu,  b)  subocciput bertindak sebagai hipomoglion berturut-turut lahir ubun-ubun besar, dahi, hidung dan muka, dan kepala seluruhnya
5)    Kepala lahir seluruhnya dan diikuti oleh putar paksi luar, yaitu penyesuaian kepala dan punggung
6)    Setelah putar paksi luar berlangsung, maka persalinan pun ditolong, lamanya kala II untuk primigravida 50 menit dan multigravida 30 menit (Mannuaba, 2006)
c.    Persalinan kala III (pelepasan uri)
Setelah kala II, Kontraksi uterus berhenti sekitar 5 - 10 menit. Dengan lahirnya bayi, sudah mulai pelepasan plasenta pada lapisan nitabusch, karena sifat retraksi otot rahim. Melahirkan plasenta dilakukan dengan dorongan ringan secara crede pada fundus uteri  (Mannuaba, 2006).
d.    Persalinan kala IV (observasi) dilakukan untuk melakukan observasi karena perdarahan post partum sering terjadi pada dua jam pertama  (Mannuaba, 2006).

C.    Tinjauan Umum Konsep Dasar Kecemasan
1.    Definisi Kecemasan
Kecemasan adalah gangguan perasaan yang ditandai dengan perasaan ketakutan dan kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan, tidak mengalami gangguan dan menilai realitas, kepribadian masih tetap utuh, prilaku dapat terganggu tetapi masih dalam batas normal (Hawari, 2006).
2.    Kecemasan Ibu Hamil
Kecemasan ibu hamil dapat meningkatkan resiko dalam proses persalinan yaitu mengenai keadaan jalan lahir dan bayi akan dilahirkannya. Ibu hamil mengekspresikan kecemasan selama kehamilannya sampai menjelang proses persalinan yang akan dihadapinya dan itu menyebabkan stressor. Respon iindividu menghadapi stressor berupa rasa cemas dan saat-saat menghadapi rasa cemas sebenarnya ditentukan oleh koping yaitu upaya berorientasi dan intra fisik untuk mengelola lingkungan dan kebutuhan internal maupun konflik mengenai hal tersebut (Bobak, 2005)
Kekhawatiran dan kecemasan pada ibu hamil apabila tidak ditangani dengan serius akan membawa dampak dan pengaruh terhadap fisik dan psikis, baik pada ibu maupun janin. Kecemasan yang berlangsung lama bisa menyebabkan stress, dimana sinyalnya bearjalan lewat aksis HPA (Hipotalamo Pituitary Adrenal) yang dapat menyebabkan lepasnya hormon stress antara lain Adreno Cartico Tropin Hormone (ACTH), kortisol, ß-Endrophin, Growth Hormone (GH), prolaktin dan lutenizing hormone (LH)/folicle stimulating hormone (FSH). Lepasnya hormon-hormon akibat stress tersebut mengakibatkan terjadinya vasokontriksi sistemik, termaksud diantaranya konstriksi vasa utero plasenta yang menyebabkan gangguan aliran darah didalam rahim, sehingga penyampaian oksigen kedalam miometrium terganggu dan mengakibatkan lemahnya kontraksi otot rahim. Kejadian tersebut menyebabkan makin lamanya proses persalinan (partus lama) sehingga janin mengalami kegawatan (fetal-distress). Disamping itu, dengan meningkatnya plasma kortisol, berakibat menurunkan respon imun ibu dan janin (Yanti, 2008).
3.    Tingkat Kecemasan
Kecemasan dibagi dalam empat tingkatan yaitu kecemasan tingkat ringan, sedang, berat, dan panik. Selengkapnya dari masing-masing tingkat kecemasan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
a.    Kecemasan Ringan
kecemasan ringan adalah kecemasan normal dimana individu pada keseharian dalam batasan kemampuan untuk melakukan dan memecahkan masalah meningkat. Batasan karakteristik dari kecemasan ringan adalah gelisah, insomnia ringan, perubahan nafsu makan, peka, pengulangan pertanyaan, perilaku mencari perhatian, peningkatan kewaspadaan, peningkatan persepsi, dan pemecahan masalah, mudah marah, fokus pada masalah masa dating, dan gerakan tidak tenang.
b.    Kecemasan Sedang
kecemasan sedang adalah cemas yang mempengaruhi pengetahuan baru dengan penyempitan lapang pandang persepsi sehingga individu kehilangan pegangan tetapi dapat mengikuti pengarahan dari orang lain. Batasan karakteristik dari kecemasan sedang adalah perkembangan dari kecemasan ringan, perhatian terpilih pada lingkungan, konsentrasi pada tugas-tugas individu, ketidaknyamanan subyektif sedang, peningkatan jumlah waktu yang digunakan pada situasi masalah, suara bergetar, perubahan dalam nada suara, takipnea, takikardia¸gemetaran, peningkatan ketegangan otot, menggigit kuku, memukul-mukul jari, mengetuk-ngetuk jari kaki, dan menggoyangkan kaki.
c.    Kecemasan Berat
Kecemasan berat Terjadi pada lapang pandang persepsi pada titik dimana individu tidak dapat memecahkan masalah atau mempelajari masalah. Batasan karakteristik dari kecemasan berat adalah ketegangan otot berlebihan (sakit kepala, spasme otot), perasaan terancam, perubahan gastrointestinal (mual, muntah, rasa terbakar pada ulu hati, sendawa, anoreksia, dan diare atau konstipasi), perubahan pernapasan antara lain napas panjang, hiperventilasi, dispnea dan pusing. Perubahan kardiovaskuler antara lain takikardia, palpitasi, rasa tidak nyaman pada prekordia berkurangnya jarak persepsi secara hebat, ketidakmampuan untuk belajar, ketidakmampuan untuk berkonsentrasi, rasa terisolasi, aktivitas yang tidak berguna, dan bermusuhan.
d.    Panik
Panik terjadi apabila kecemasan meningkat sampai tingkat dimana individu saat itu dapat berbahaya, terhadap diri sendiri atau orang lain, dan dapat menjadi diam atau dapat menyerang dengan cara kacau. Batasan karakteristik dari panik adalah hiperaktifitas atau imobilisasi berat, rasa isolasi yang ekstim, kehilangan identitas, desintegrasi kepribadian, saat goncang dan otot tegang, ketidak mampuan untuk  berkomunikasi dengan kalimat yang lengkap, distorsi persepsi dan penilaian yang tidak realitas terhadap lingkungan atau ancaman, perilaku kacau dalam usaha melarikan diri (Leary, 2007).
4.    Penilaian Kecemasan
Gejala kecemasan dapat diukur dengan teknik HARS (Hamirton Aksiety Rating Scale) yang mengandung 14 item sebagai berikut :
a.    Perasaan cemas diantaranya, merasa buruk, takut akan pikiran sendiri, dan mudah tersinggung
b.    Ketegangan diantaranya merasa tegang, lesu, mudah terkejut, tidak bisa istirahat dengan nyenyak, mudah menangis, gemetar dan gelisah
c.    Ketakutan diantaranya pada gelap, ditinggal sendiri, pada orang asing, pada binatang beasar, pada keramaian lalu lintas, pada kerumunan banyak orang
d.    Gangguan tidur diantaranya sukar  memulai tidur, terbangun malam hari, tidak pulas, mimpi buruk, dan mimpi yang menakutkan
e.    Gangguan kecerdasan diantaranya daya ingat buruk, dan sulit berkonsentrasi, sering bingung
f.    Perasaan depresi diantaranya kehilangan minat, sedih, bangun dini hari, berkurangnya kesukaan pada hobi, perasaan berubah ubah sepanjang hari
g.    Gejala somatik (otot) diantaranya nyeri otot, kaku, kedutaan otot, gigi gemeretak dan suara tidak stabil
h.    Gejala sensorik diantaranya telinga berdengung, penglihatan kabur, muka merah dan pucat, merasa lemah, perasaan ditusuk-tusuk
i.    Gejala kardiovaskuler diantaranya denyut nadi cepat, berdebar-debar, nyeri dada, denyut nadi mengeras, merasa lemas seperti mau pingsan, detak jantung hilang sekejap
j.    Gejala pernapasan diantaranya rasa tertekan didada, perasaan tercekik, perasaan napas pendek/sesak, dan serung menarik napas panjang
k.    Gejala gastrioentestinal (pencernaan) diantarany sulit menelan, mual muntah, berat badan menurun, konstipasi atau sulit buang air besar, perut melilit, gangguan pencernaan, nyeri lambung sebelum dan sesudah makan, rasa panas diperut, dan perut terasa penuh atau kembung
l.    Gejala urogenital (perkemihan) diantaranya sering buang air kecil, tidak dapat menahan kencing, amenore atau menstruiasi yang tidak teratur, fridigitas
m.    Gejela otonom diantaranya mulut kering, muka kering, mudah berkeringat, pusing atau sakit kepala, dan bulu roma berdiri
n.    Tingkah laku diantaranya gelisah, tidak tenang, mengerutkan dahi muka tegang, tonus atau ketegangan otot meningkat, napas pendek dan cepat, muka merah.
Penilaian tingkat kecemasan menurut Hamirton Anciety Rating Scale (HARS) adalah
a.    Nilai 0 = gejala ringan /keluhan
b.    Nilai 1 = gejala ringan / satu dari gejala yang ada
c.    Nilai 2 = gejaa sedang/ separuh dari gejala yang ada
d.    Nilai 3 = gejala berat/ lebih dari separuh dari gejala yang ada
e.    Nilai 4 = gejala berat sekali / semua dari gejala yang ada (Nursalam, 2008)

Masing-masing nilai angka (skore) dari 14 kelompok gejala tersebut dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan tersebut dapat diketahui derajat kecemasan seseorang, yaitu:
Total nilai (skore) :
a.    kecemasan ringan : apabila responden memperoleh skor kurang dari 36 persen
b.    kecemasan sedang : apabila responden memperoleh skor lebih dari 36 persen sampai 67 persen
c.     kecemasan berat : apabila responden memperoleh skor lebih dari 68 persen.
D.    Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat Kecemasan Ibu dalam Menghadapi Proses Persalinan
1.    Umur
Kehamilan di usia kurang dari 20 tahun bisa menimbulkan masalah karena kondisi fisik belum 100 persen siap. Kehamilan dan persalinan diusia tersebut meningkatkan angka kematian ibu dan janin 4-6 kali lipat dibanding wanita yang hamil dan bersalin di usia 20-30 tahun. Beberapa resiko yang bisa terjadi pada kehamilan kurang dari 20 tahun adalah kecenderungan naiknya tekanan darah dan pertumbuhan janin terhambat. Bisa jadi secara mental pun si wanita belum siap, hal ini dapat memicu terjadinya kecemasan ibu hamil menjelang persalinan (Damayanti, 2012)
Berbeda dengan wanita usia 20-30 tahun yang dianggap  ideal untuk menjalani kehamilan dan persalinan. Direntang usia ini kondisi fissik wanita dalam keadaan prima. Rahim sudah mampu memberi perlindungan atau kondisi yang maksimal untuk kehamilan. Umumnya secara mental pun siap. Yang berdampak pada perilaku merawat dan menjaga kehamilannya secara hati-hati dan secara psikologis telah siap menghadapi persalinan. Sedangkan usia 30-35 tahun sebenarnya merupakan masa transisi kehamilan, pada usia ini masi bisa diterima asal kondisi tubuh dan kesehatan ibu dalam keadaan baik. Sedangkan usia 35 sebagian wanita digolongkan pada kehamilan beresiko tinggi. Dikurun usia ini angka kematian ibu melahirkan dan bayi meningkat sehingga hal ini dapat meningkatkan kecemasan (Damayanti, 2012)
Kekhawatiran yang dialami oleh wanita yang lebih tua (lebih dari 35 tahun) pada umumnya sama dengan apa yang dialami oleh wanita yang lebih muda (kurang dari 20 tahun). Dari pengalaman bahwa ada kecenderungan yang agak lebih besar pada diri wanita yang lebih tua untuk merasa cemas tentang kesejahteraan serta kenormalan bayinya dari pada wanita yang lebih muda. Hal ini dikarenakan wanita yang lebih tua memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk ditimpa problem dalam hidupnya. Rasa takut dan khawatir bahwa sesuatu yang buruk terjadi atas bayinya mengatasi semua kekhawatiran yang lain untuk sementara atau bahkan menekannya (Lidyana, 2004).

2.    Paritas
Paritas adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan janin hidup, bukan jumlah janin yang dilahirkan (Bobak, 2004). Paritas adalah pengalaman wanita berkaitan dengan kehamilan, abortus, persalinan prematur, dan persalinan aterm serta anak yang hidup (Winkjosastro, 2006). Ibu yang terlalu sering melahirkan mempunyai resiko bagi kesehatannya dan juga bagi kesehatan anaknya. Karena pada ibu dapat timbul kerusakan-kerusakan pada pembuluh darah dinding uterus yang mempengruhi sirkulasi nutrisi kejanin, dimana jumlah nutrisi akan berkurang. Sedangkan pada bayi lanjut, dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan janin yang kelak akan lahir dengan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) (mannuaba, 2006).
Persalinan kedua dan ketiga merupakan keadaan yang relatif aman untuk melahirkan pada masa reproduktif , karena pada masa persalinan tersebut keadaan potologis dimana didinding uterus belum banyak mengalami parubahan, sedangkan pada persalinan lebih dari empat kali padat menyebabkan risiko, yaitu kerusakan pada pembuluh darah hal ini tentu saja dapat memicu terjadinya kecemasan bagi ibu hamil menjelang  persalinan. Menurut Wiknojosastro (2006) bahwa paritas > 3 menyebabkan kehamilan  resiko tinggi karena mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi. Lebih tinggi paritas, lebih tinggi kematin maternal sehingga hal tersebut dapat meningkatkan kecemasan ibu hamil yang menjelang persilanan. Wanita yang telah melahirkan 5 orang anak atau lebih biasanya mengalami penyulit dalam kehamilan dan persalinan. Seorang ibu dengan anak paritas lebih dari 5 biasanya memiliki kondisi fisik yang sudah tidak prima lagi apalagi jarak antara melahirkan satu dengan berikutnya kurang dari 2 tahun (Winkjosastro, 2006).
Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal. Paritas 1 dan paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai resiko kesehatan ibu dan dan anak  meningkat pada persalinan pertama, keempat dan seterusnya. Kehamilan dan persalinan pertama meningkatkan resiko kesehatan yang timbul karena ibu belum pernah mengalami kehamilan sebelumnya, selain itu jalan lahir baru akan dicoba dilalui janin. Sebaliknya bila terlalu sering melahirkan rahim akan menjadi semakin melemah karena jaringan parut uterus akibat kehamilan yang berulang. Jaringan parut ini yang menyebabkan tidak adekuatnya persediaan darah keplasenta sehingga plasenta tidak mendapat aliran darah yang cukup untuk menyalurkan nutrisi kejanin, akibatnya pertumbuhan janin yang terganggu (Depkes RI, 2007).
Penggolongan paritas bagi ibu yang masih hamil atau pernah hamil yaitu primigravida adalah wanita hamil untuk pertama kalinya, multigravida adalah wanita yang pernah hamil beberapa kali dan kehamilan tersebut tidak mempengaruhi aktifitas profesi ibu. Ibu akan semakin percaya diri dan merasa kehamilan bukanlah sesuatu hambatan sehingga kecemasanpun dapat teratasi (Jhaquin, 2010).
3.    Dukungan Keluarga
Menurut Taylor dalam Aprianawaty (2009) dukungan keluarga merupakan bantuan yang dapat diberikan kepada keluarga lain (ibu hamil) berupa barang, jasa, informasi dan nasehat, yang mana membuat penerima dukungan akan merasa disayang, dihargai dan tentram. Setiap ibu yang akan memasuki masa persalinan maka akan muncul perasaan takut, khawatir, ataupun cemas. Persaan takut dapat meningkatkan nyeri, otot-otot menjadi tegang dan ibu menjadi cepat lelah yang pada akhirnya akan menghambat proses persalinan. Dukungan keluarga dapat diberikan oleh orang-orang terdekat ibu seperti suami, keluarga, dan teman (Yanti, 2008).
Faktor psikis menjelang persalinan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi lancar tidaknya proses persalinan. Dukungan yang penuh dari anggota keluarga penting artinya bagi seorang ibu bersalin terutama dukungan dari suami sehingga memberikan support moril terhadap ibu  (Stuart dan suddent, 2005)
Dukungan keluarga sangat bermanfaat dalam pengendalian seseorang terhadap tingkat kecemasan dan dapat pula mengurangi tekanan-tekanan yang ada pada konflik yang terjadi pada dirinya. Dukungan tersebut berupa dorongan, motivasi, empati, ataupun bantuan yang dapat membuat individu yang lainnya merasa menjadi tenang dan aman. Dukungan didapatkan dari keluarga yang terdiri dari suami, orang tua, ataupun keluarga lainnya. Dukungan keluarga dapat mendatangkan rasa senang, rasa aman, rasa puas, rasa nyaman dan membuat orang yang bersangkutan merasa mendapat dukungan emosional yang akan mempengaruhi kesejahteraan jiwa manusia. Dukungan keluarga berkaitan dengan pembentukan keseimbangan mental dan kepuasan psikologis. Peran suami terhadap ibu yang sedang mengandung dan setelah melahirkan amat besar. Ibu hamil harus mendapatkan dukungan yang sebesar-besarnya dari suami (Taylor dalam Aprianawaty, 2009).
Dukungan suami ini bisa ditunjukan dengan berbagai cara, seperti memberi ketenangan pada istri, membantu sebagian pekerjaan istri atau bahkan sekedar memberi pijatan ringan bila istri merasa tegang. Diharapkan dengan dukungan total dari suami istri dapat melewati masa kehamilannya dengan perasaan senang dan jauh dari depresi. Dukungan keluarga ini sangat penting karena jika keluarga mendukung ibu hamil untuk bereksplorasi dan melakukan hal-hal yang disukai, niscaya kehamilan yang dijalani tidak akan mempengaruhi aktifitas profesi ibu. Ibu akan semakin percaya diri dan merasa kehamilan bukanlah sesuatu hambatan sehingga kecemasanpun dapat teratasi (Jhaquin, 2010).

E.    Kerangka Konsep
 asmanurs3.blogspot.com
 F.    Definisi Operational Dan Kriteria Obyektif

asmanurs3.blogspot.com
 E.    Hipotesis Penelitian
1.    Ho:    Tidak ada hubungan umur dengan tingkat kecemasan ibu dalam menghadapi proses persalinan diwilayah kerja puskesmas Tomia tahun 2014
Ha :    Ada hubungan umurdengan tingkat kecemasan ibu dalaml  menghadapi proses persalinan diwilayah kerja puskesmas Tomia tahun 2014.
2.    Ho:    Tidak hubungan  paritas dengan tingkat kecemasan ibu dalam menghadapi proses persalinan diwilayah kerja puskesmas Tomia tahun 2014
Ha :    Ada hubungan paritas dengan tingkat kecemasan ibu dalam  menghadapi proses persalinan diwilayah kerja puskesmas Tomia tahun 2014.
3.    .Ho:    Tidak ada hubungan  dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan ibu dalam menghadapi proses persalinan diwilayah kerja puskesmas Tomia tahun 2014
Ha :    Ada hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan ibu dalam menghadapi proses persalinan diwilayah kerja puskesmas Tomia tahun 2014.

BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Jenis Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah survey analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional dimana desain ini digunakan untuk mengetahui adakah hubungan umur, paritas dan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan ibu dalam menghadapi proses petsalinan di wilayah Kerja Pusat Kesehatan Masyarakat Tomia Tahun 2014.   
B.    Lokasi dan Waktu Peneletian
1.    Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan Di Wilayah Kerja Pusat Kesehatan Masyarakat Tomia Induk Kabupaten Wakatobi tahun 2014.
2.    Waktu penelitian
 Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Agustus Tahun 2014.
C.    Populasi dan Sampel
1.    Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah ibu hamil trimester III yang ada di wilayah kerja Pusat Kesehatan Masyarakat Tomia Induk berdasarkan data pada bulan Maret 2014 yaitu sebanyak 34 orang.
2.    Sampel
Sampel adalah sebagian dari jumlah populasi yang akan diteliti (Suharsimi, 2006: 136).
Sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 34 orang ibu hamil trimester III dengan menggunakan tehnik pengambilan sampel secara total sampling yaitu tehnik penentuan sampel dengan mengambil seluruh anggota populasi sebagai responden (Isgiyanto. 2009).
Adapun kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah ibu hamil trimester III yang menjelang persalinan dan ibu hamil yang bertempat tinggal di Wilayah kerja Puskesmas Tomia Induk. Sedangkan kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah ibu hamil yang bukan trimester III dan ibu hamil yang bertempat tinggal diluar Wilayah kerja Pusat Kesehatan Masyarakat Tomia Induk Kabupaten Wakatobi.
D.    Instrumen Penelitian
Instrumen atau alat pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, yang berisi daftar pertanyaan untuk responden tentang hubungan paritas, umur, dan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan ibu dalam menghadapi proses persalian diwilayah kerja Pusat Kesehatan Masyarakat Tomia Induk Kabupaten Wakatobi Tahun 2014.
E.    Pengumpulan Data
1.    Data Primer
Data primer diperoleh langsung dari responden dengan menggunakan daftar pertanyaan yang tersedia yaitu kuesioner dan observasi.

2.    Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari puskesmas yang menjadi tempat penelitian antara lain yaitu data tentang populasi.
F.    Pengolahan Data
Setelah data terkumpul, kemudian dilakukan pengolahan data sebagai berikut (Riyanto, 2011) :
1.    Mengedit (Editing) yaitu penyuntingan yang dilakukan secara langsung oleh peneliti terhadap kuesioner sehingga tidak terjadi kesalahan baik dalam penempatan maupun dalam penjumlahan.
2.    Pengkodean (Coding) yaitu hasil jawaban setiap pernyataan diberi kode sesuai dengan petunjuk coding
3.    Pemberian skor (skoring) yaitu setelan semua variabel diberi kode selanjutnya masing-masing komponen variabel dijumlahkan.
4.    Processing yaitu setelah semua isian terisi dengan benar, langkah selanjutnya adalah memproses data agar dapat dianalisa dengan cara mengentry data hasil kuesioner ke komputer.
5.    Cleaning, dilakukan untuk mengecek kembali data-data yang sudah dientry apakah ada kesalahan atau tidak.
G.    Penyajian Data dan Analisa Data
1.    Penyajian data
Data dalam penelitian ini akan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi berdasarkan variabel yang diteliti kemudian dinarasikan.
2.    Analisa data
a.    Analisa Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran distribusi dan frekuensi dari variabel dependen dan independen. Dan disajikan dalam bentuk tabel dan diinterprestasikan (Riyanto. 2011).
b.    Analisa Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel independen  (umur, paritas, dan dukungan keluarga) dengan variabel dependen (tingkat kecemasan ibu dalam menghadapi proses persalinan) dengan menggunakan uji statistik dengan tingkat kemaknaan (a) = 0,05. Uji statistik yang digunakan adalah Chi square dengan ketentuan bila P value < 0,05 maka Ho, ditolak (P value = a) dan Ha yang berarti ada hubungan antara variabel yang diuji dan hipotesis alternatif diterima dan jika P value > 0,05 maka Ho diterima (P value > a ) dan Ha ditolak berarti tidak ada hubungan antara variabel yang diuji dan hipotesis alternatif ditolak (Riyanto, 2011)

H.    Etika Penelitian
Dalam melakukan penelitian peneliti memandang perlu adanya rekomendasi pihak institusi atas pihak lain dengan mengajukan permohonan izin kepada instansi tempat penelitian dalam hal ini pihak puskesmas tomia induk.
Setelah mendapat persetujuan, barulah dilakukan penelitian demgan menekan masalah etika penelitian yang meliputi :
1.    Informerd concent
Lembar persetujuan diberikan kepada responden yang akan diteliti yang memenuhi kriteria inklusi dan disertai judul penelitian dan manfaat penelitian, bila subyek menolak maka penelitian tidak akan memaksakan kehendak dan tetap menghormati hak-hak subyek.
2.    Anonimity
Untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak akan mencantumkan nama responden pada kuisioner, tetapi pada kuisioner tersebut diberikan kode responden.
3.    Konfidentiality
Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peniliti dan  hanya kelompok data tertentu saja yang dilaporkan sebagai hasil penelitian.
4.    Beneficence
Peneliti melindungi subyek agar terhindar dari bahaya ketidaknyamanan fisik.
5.    Full disclosure
Peneliti memberikan hak kepada responden untuk memberikan keputusan secara suka rela tentang partisipasinya dalam penelitian ini dan keputusan tersebut tidak dapat dibuat tanpa memberikan penjelasan selengkap-lengkapnya (Nursalam,2008).

Sumber dan Pemilik Proposal : NUR ASFIATI

skip add untuk lanjut

0 Response to "Proposal kesehatan "FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT KECEMASAN IBU HAMIL DALAM MENGHADAPI PROSES PERSALINAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TOMIA INDUK KABUPATEN WAKATOBI TAHUN 2014""

Post a Comment

* Terima kasih telah berkunjung di blog Saya.
* Comentar yang sopan.
* Kami hargai komentar dan kunjungan anda
* Tunggu Kami di Blog Anda
* No Link Aktif
Salam Kenal Dari Saya