Makalah perencanaan pelayanan keperawatan



KATA PENGANTAR


Tiada kata terindah yang patut diucapkan kepada ALLAH SWT selain ucapan puji dan syukur yang setinggi-tingginya karena berkat rahmat, hidayah dan karunia-Nyalah sehingga kami dapat  menyelesaikan makalah ini. makalah ini diharapkan berguna bagi teman mahasisiwa-mahasiswi sekalian.
            Selama penyusunan makalah ini, kami telah mendapat begitu banyak bantuan dari berbagai pihak, baik langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini dengan segala hormat dan kerendahan hati kami mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah MANAJEMEN KEPERAWATAN  yang telah membimbing kami. Juga teman-teman seperjuangan yang telah memberikan dorongan, masukan maupun bantuan material juga atas semua doa dan kasih sayang yang telah diberikan kepada kami dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Semoga kebaikan dan  keikhlasannya mendapat balasan yang berlipat ganda dari ALLAH SWT. Amin.
            Kami menyadari dalam proses penyelesaian makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis selalu terbuka dan berterima kasih atas kritik dan saran yang bersifat membangun guna kesempurnaan makalah ini.
            Demikian, semoga makalah ini berguna dan memberikan nilai tambah dan manfaat bagi semua pihak yang memerlukannya.adapun terdapat kekurangan-kekurangan dalam makalah ini, kami mohonkan maaf yang sebesar-besarnya.
SELAMAT MEMBACA……



Bau, 23 Maret 2013

                                                                                      
Penyusun

                      


BAB I
PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG
Pelayanan keperawatan tidak terlepas dari andil sebuah rumah sakit sebagai institusi yang ditunjuk sebagai wadah yang melayani atau emberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Rumah Sakit (RS) merupakan institusi pelayanan kesehatan yang sangat kompleks, karena Sumber Daya Manusia (SDM) yang bekerja, terdiri dari multi disiplin dan berbagai jenis keahlian. Rumah Sakit (RS) adalah salah satu bentuk organisasi yang kegiatannya memberikan pelayanan yang baik, berupa promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif, sehingga dibutuhkan kinerja karyawan yang baik. (Suryadi,1999).
Pelayanan keperawatan merupakan inti dari suatu pelayanan kesehatan termasuk di Rumah Sakit. Gillies (1998), menjelaskan bahwa 40-60% pelayanan di Rumah Sakit merupakan pelayanan keperawatan. Sebagai
pelaksana dan pengelola pelayanan, perawat harus mampu mengembangkan bentuk pelayanan yang dapat dijangkau oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhannya secara berkesinambungan. Perawat adalah salah satu unsur vital dalam rumah sakit, perawat, dokter dan pasien merupakan satu kesatuan yang saling membutuhkan dan tidak dapat dipisahkan. Perawat sebagai bagian yang penting dari Rumah Sakit, dituntut memberikan perilaku membantu, dalam rangka membantu pasien untuk mencapai kesembuhan. Tanpa perawat, kesejahteraan pasien akan terabaikan, karena perawat adalah penjalin kontak pertama dan terlama dengan pasien.

BAB II
PEMBAHASAN
Pelayanan keperawatan adalah bantuan yang diberikan karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan serta kurangnya kemauan dan kemampuan pasien untuk mel aksanakan kehidupan sehari-hari secara mandiri. Pelayanan keperawatan mencakup seluruh rentang pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh perawat bersama-sama dengan tenaga kesehatan lain untuk mencapai tujuan promosi dan pembinaan kesehatan, pencegahan penyakit, diagnosa dini, penyembuhan dan kesembuhan dari penyakit atau kecelakaan dan rehabilitasi, dengan menggunakan metoda keperawatan yang selanjutnya disebut sebagai proses keperawatan. Proses ini mempunyai kerangka dasar ilmiah, dengan pendekatan pemecahan masalah, yang intinya adalah pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Dengan demikian terjadi pergeseran dari tindakan yang
didasarkan atas penugasan atau perintah dokter, menjadi tindakan yang lebih bersifat mandiri dengan menggunakan metoda pendekatan dan tindakan keperawatan yang bersifat logik dan sistematis. Dengan melihat keperawatan sebagai suatu sistem, kita dapat melihat secara sistematis pelayanan keperawatan dengan permasalahan yang sering ijumpai di rumah sakit.

Pertama, masukan yang tendiri dari tenaga paramedis keperawatan, organisasi dan tata laksana keperawatan di rumah sakit, sarana dan prasarana keperawatan serta pasien yang dilayani. Kedua, proses manajemen keperawatan dan ketiga, keluaran yang berupa pelayanan keperawatan yang dihasilkan oleh adanya proses tersebut. Keempat, penilaian agar semua proses berjalan dengan baik. Di samping itu dipengaruhi oleh Direktur Rumah Sakit, kepala Unit,
Kekurangan tenaga perawat dan pendidikan perawat yang ada saat ini di Indonesia, khususnya tenaga perawat tingkat dasar merupakan kendala bagi rumah sakit untuk mengembangkan mutu pelayanan. Dasar pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), pergeseran kurikulum dari Hospital Oriented ke arah Community Oriented menyebabkan lulusan Sekolah Perawat Kesehatan bukan siap pakai, tatapi siap latih di rumah sakit. Keadaan ini perlu disadari oleh para pengelola rumah sakit sehingga upayaupaya untuk meningkatkan kualitas perawat dalam mengimbangi perkembangan teknologi dan koordinasi dengan para dokter di rumah sakit dapat dilaksanakan. Seperti halnya pelayanan medik, organisasi dan tata laksana keperawatan di Rumah Sakit Pemerintah saat ini masih mengacu pada Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 134 Tahun 1978. Kenyataannya, cukup sulit untukmelaksanakan tata laksana tersebut, karena masih banyak pimpinan rumah sakit maupun perawat belum menghayati tentang peran dan tugas parawat di rumah sakit.
Pada dasarnya peran dan tugas perawat di rumah sakit adalah :
1.    Perawatan dasar yaitu kegiatan atau proses memberikan asuhan perorangan  untuk memenuhi kebutuhan fisik pasien yang tidak dapat dilakukan sendiri karena dihambat oleh keadaan sakitnya. Sebagai contoh memandikan pasien, menyiapkan tempat tidur, memberi makan.
2.    Perawatan teknis untuk memenuhi kebutuhan klinis pasien, seperti mengukur suhu tubuh, mengukur tekanan darah, membantu operasi dan memberikan pelayanan di unit terapi khusus yang menuntut pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman lebih tinggi, serta sudah menjurus ke arah spesia lisasi keperawatan tetapi keputusan tetap di tangan dokter.
3.    Kegiatan memantau (observasi) dan melapor keadaan pasien kepada dokter, dalam hal ini perawat berperan sebagai sumber informasi klinis.
4.    Kegiatan memenuhi kebutuhan emosional pasien dan non-fisik pasien karena perawat merupakan pendamping pasien selama 24 jam per hari.
5.    Kegiatan bukan perawatan seperti memelihara kebersihan, tugas administrasi dan manajemen. Kegiatan ini harus lebih ditangani dengan seksama karena perawat ikut menentukan keberhasilan manajemen rumah sakit.
6.    Perawatan kesehatan masyarakat, yang mengutamakan perawatan kesehatan primer. Hal ini didukung oleh adanya program PKMRS (Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Rumah Sakit).
Tenaga keperawatan diharapkan dapat melaksanakan fungsi (pada pasien-pasien yang dirawat) sebagai berikut :
a.      Menentukan kebutuhan kesehatan pasien dan mendorong pasien untuk berperan serta di dalam memenuhi kebutuhan kesehatannya.
b.      Memberikan penyuluhan kesehatan mengenai kebersihan perorangan, kesehatan lingkungan, kesehatan mental, gizi, kesehatan ibu dan anak, pencegahan penyakit dan kecelakaan.
c.      Memberikan Asuhan Keperawatan kepada pasien yang meliputi perawatan darurat,serta bekerjasama dengan dokter dalam program pengobatan
d.      Melaksanakan rujukan terhadap kasus-kasus yang tidak dapat ditanggulangi dan menerima rujukan dari organisasi kesehatan lainnya.
e.      Melaksanakan  pencatatan pelaporan asuhan Keperawatan.

A.   PROFIL PERAWAT PROFESIONAL
Pelayanan Keperawatan di masa mendatang harus dapat memberikan Consumer Minded terhadap pelayanan yang diterima.Implikasi pelayanan keperawatan  akan terus mengalami perubahaan dan hal ini akan dapat terjawab dengan memahami dan melaksanakan karakteristik perawat professional dan perawat millennium. Menurut Nursalam Peran perawat di masa depan harus berkembang seiring dengan perkembangan IPTEK dan tuntutan kebutuhan masyarakat, sehingga perawat, dituntut mampu manjawab dan mengantisipasi terhadap dampak dari perubahan.Sebagai Perawat professional maka peran yang diemban adalah “CARE”  yang meliputi :
  
COMMUNICATION
C  =
COMPLETE


A  =
ACCURATE


R  =
RAPID


E  =
ENGLISH
   A  =
ACTIVITY
C  =
COOPERATIVE


A  =
APPLICABLE


R  =
RESPOSIVE


E  =
EMPATHY
   R  =
REVIEW
C  =
CONSIDERED


A  =
APPROPRIATE


R  =
REASONED


E  =
EVALUATED
   E  =
EDUCATION
C  =
COMMITED


A  =
ACADEMIC


R  =
RESEARCH


E  =
EXTENDED
Perawat memberikan pelayanan keperawatan harus dapat berkomunikasi secara lengkap, adekuat, cepat. Setiap melakukan komunikasi (lisan dan tulis) harus memenuhi tiga syarat di atas dan juga harus mampu berbicara dan menulis dalam bahasa asing minimal bahasa inggris.
Prinsip melakukan aktifitas/pemberian asuhan keperawatan harus dapat bekerjasama dengan teman sejawat dan tenaga kesehatan lainnya, khususnya tim medis sebagai mitra kerja dalam memberikan asuhan kepada pasien.Ativitas ini harus ditunjang dengan menunjukan suatu kesungguhan dan sikap empati dan bertanggung-jawab terhadap setiap tugas yang diemban.
Tindakan keperawatan harus dilakukan dengan prinsip : “CWIPAT”
C   : Check the orders & Equipment
W  : Wash Your hands
I     : Identify of Patient
P   :  Provide for Safety &Privacy
A   : Asses the Problem
T    : Tell the person or teach the patient about what you are going to do
Prinsip utamanya adalah moral dan Etika keperawatan. Dalam memberikan setiap asuhan keperawatan perawat harus selalu berpedoman pada nilai-nilai etik keperawatan dan standar keperawatan yang ada serta ilmu keperawatan.  Untuk menghindari kesalahan dalam pelaksanaan peran ini maka perawat harus berpegangan pada prinsip-prinsip etik keperawatan yang meliputi :
      Justice             : Asas keadilan
Setiap prioritas tindakan yang diberikan harus berdasarkan kondisi pasien, tidak ada diskriminasi pasien dan alat
      Autnomy          : Asas menghormati otonomi
Setiap manusia mempunyai hak untuk menentukan tindakan terhadap dirinya sendiri
      Benefienc        : Asas Manfaat
Setiap tindakan yang diberikan kepada klien harus bermanfaat bagi klien dan menghindarkan dari kecacatan
      Veracity           : Asas kejujuran
Perawat dalam berkomunikasi harus mengatakan yang benar dan jujur kepada klien
      Confidentiality : Asas Kerahasiaan
  Apa yang dilaksanakan oleh perawat harus didasarkan pada  tanggung-jawab moral dan profesi.
Perawat harus mempunyai komitmen yang tinggi terhadap profesi dengan jalan terus menerus menambah ilmu melalui melalui pendidikan formal/nonformal, sampai pada suatu keahlian tertentu. Pengembangan pelayanan keperawatan yang paling efektif harus didasarkan pada hasil temuan-temuan Ilmiah yang dapat diuji ke-sahihannya.
B.   PROSES MANAJEMEN KEPERAWATAN
Proses adalah suatu rangkaian tindakan yang mengarah pada suatu tujuan. Di dalam proses keperawatan, bagian akhir mungkin berupa sebuah pembebasan dari gejala, eliminasi resiko, pencegahan komplikasi  argumentasi pengetahuan atau ketrampilan kesehatan dan kemudahan  dari kebebasan maksimal.Di dalam proses manajemen Keperwatan, bagian akhir adalah perawatan yang efektif dan ekonomis bagi semua kelompok pasien.
Proses Manajemen Keperawatan :
1.    Pengkajian – Pengumpulan Data
Pada tahap ini perawat dituntut tidak hanya megumpulkan informasi tentang keadaan pasien, melainkan juga mengenai institusi (rumah sakit/puskesmas), tenaga keperawatan, administrasi dan bagian keuangan yang akan mempengaruhi fungsi organisasi keperawatan secara keseluruhan.
Pada tahap ini harus mampu mempertahankan level yang tinggi bagi efisiensi salah satu bagian dengan cara menggunakan ukuran pengawasan untuk mengidentifikasikan masalah dengan segera, dan setelah mereka terbentuk kemudian dievaluasi apakah rencana tersebut perlu diubah atau prestasi yang perlu dikoreksi.


2.    Perencanaan
Perencanaan disini dimaksudkan untuk menyusun suatu rencana yang strategis dalam mencapai tujuan, seperti menentukan kebutuhan dalam asuhan keperawatan kepada semua pasien, menegakkan tujuan, mengalokasikan anggaran belanja, memutuskan ukuran  dan tipe tenaga keperawatan yang dibutuhkan, membuat pola struktur organisasi yang dapat mengoptimalkan efektifitas staf serta menegakkan kebijaksanaan dan prosedur operasional untuk mencapai visidan misi yang telah ditetapkan.
3.    Pelaksanaan
Pada tahap ini Manajemen Keperawatan memerlukan kerja melalui orang lain, maka tahap implementasi di dalam proses manajemen terdiri dari dan bagaimana memimpin orang lain untuk menjalankan tindakan yang telah direncanakan.
4.    Evaluasi
Tahap akhir dari proses manajerial adalah melakukan evaluasi seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan.Pada tahap ini manajemen akan memberikan nilai seberapa jauh staf mampu melaksanakan tugasnya dan mengidentifikasi factor-faktor yang menghambat dan mendukung dalam pelaksanaan.
      Sistim di dalam manajemen Keperawatan :
a.    Pengumpulan data  yaitu Personalia, Pasien, Peralatan dan persediaan
b.    Perencanaan: Tujuan, Sistim, Standar, Kebijaksanaan, Prosedur, Anggaran
c.    Pengaturan: Tabel organisasi, Evaluasi Tugas, Deskripsi kerja, Pembentukan kerjasama tim
d.    Kepegawaian: Klasifikasi pasien, penentuan kebutuhan staff, rekrutmen, pemilihan orientasi, penjadualan, penugasan, minimalisasi ketidakhadiran, penurunan pergantian, pengembangan staff.
e.    Kepemimpinan: Penggunaan kekuatan, pemecahan masalah,pengambilan keputusan, mempengaruhi perubahan, menangani konflik, komunikasi dan analisa transaksional.
f.     Pengawasan:
penelitian, Jaminan Keselamatan, Audit pasien, penilaian prestasi, disiplin, hubungan pekerja tenaga kerja, sistim informasi computer

C.   PENGUMPULAN DATA
Ketenagaan keperawatan :
Ø  Lingkungan kerja
         Gambaran umum jumlah tempat tidur /tanggal
         Lokasi dan denah ruang
         Fasilitas untuk pasien
         Fasilitas untuk petugas
         Fasilitas peralatan dan bahan kesehatan
Ø  Sumber Daya Manusia
         Tenaga Keperawatan
         Tenaga non-keperawatan
Ø  Ketenagaan Keperawatan dan Pasien
Pada suatu pelayanan profesional, jumlah tenaga yang diperlukan tergantung pada jumlah pasien dan derajat ketergantungan pasien. Menurut Douglas (1984) Leveridge & Cummings (1996) klasifikasi derajat ketergantungan pasien dibagi 3 kategori yaitu : Perawatan minimal memerlukan waktu 1-2 jam/24 jam, Perawatan Intermedit memerlukan waktu 3-4 jam/24 jam dan Perawatan maksimal atau total memerlukan waktu 5-6 jam.24 jam.Dalam penelitian tentang jumlah tenaga perawat di rumah sakit, didapatkan jumlah perawat yang dibutuhkan pada pagi, sore dn malam tergantung pada tingkat ketergantungan pasien seperti pada tabel di bawah ini :
 KLASIFIKASI & KRITERIA
YA
TIDAK
I.        MINIMAL CARE
1.   Pasien bisa mandiri/hampir tidak memerlukan bantuan
   Mampu naik-turun tempat tidur
   Mampu Ambulasi dan berjalan sendiri
   Mampu mandi sendiri/mandi sebagian dengan bantuan
   Mampu membersihkan mulut (sikat gigi sendiri)
   Mampu nerpakaian dan berdandan dengan sedikit bantuan
   Mampu BAB dan BAK dengan sedikit bantuan
2.   Status Psikologis Stabil
3.   Pasien dirawat untuk prosedur diagnostik
4.   Operasi ringan


II.   INTERMEDIT CARE
1.Pasien memerlukan bantuan perawat sebagian
   Membutuhkan bantuan satu orang untuk naik-turun tempat tidur
   Membutuhkan bantuan untuk  Ambulasi / berjalan
   Membtuhkan bantuan dalam menyiapkan makanan
   Membutuhkan bantuan untuk makan (disuap)
   Membutuhkan bantuan untuk kebersihan mulut
   Membutuhkan bantuan untuk berpakaian dan berdandan
   Membutuhkan bantuan untuk  BAB dan BAK
5.      Post operasi minor (24 jam)
6.      Melewati fase akut dari post operasi mayor
7.      Fase awal dari penyembuhan
8.      Observasi tanda-tanda vital setiap 4 jam
9.      Gangguan emosional ringan


III.    TOTAL CARE
1.Pasien memerlukan bantuan perawat sepenuhnya dan memerlukan waktu perawat yang lebih lama
   Membutuhkan dua orang atau lebih untuk mobilisasi dari tempat tidur ke kereta dorong / kursi roda
   Membutuhkan latihan pasif
   Kebutuhan nutris dan cairan dipenuhi melalui terapi intravena (infus) atau NG tube (sonde)
   Membutuhkan bantuan untuk kebersihan mulut
   Membutuhkan bantuan penuh untuk berpakaian dan berdandan
   Dimandikan perawat
   Dalam keadaan inkontinensia, menggunakan kateter
2.24 jam post operasi mayor
3.Pasien tidak sadar
4.Keadaan pasien tidak stabil
5.Observasi TTV setiap kurang dari jam
6.Perawatan luka bakar
7.Perawatan kolostomi
8.Menggunakan alat bantu pernapasan (respirator)
9.Menggunakan WSD
10.      Irigasi kandung kemih secara terus menerus
11.      Menggunakan alat traksi (skeletal traksi)
12.      Faktur dan atau pasca operasi tulangbelakang /leher
13.      Gangguan emosional berat, bingung dan disorientasi


Jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan pada suatu ruang rawat
 a.      Pasien
Klasifikasi Pasien
Minimal
Parsial
Total
Pagi
Siang
Malam
Pagi
Siang
Malam
pagi
siang
malam
1
0,17
0,14
0,10
0,27
0,15
0,07
0,36
0,30
0,20
2
0,34
0,28
0,20
0,54
0,30
0,14
0,72
0,60
0,40
3
0,51
0,42
0,30
0,81
0,45
0,21
1,08
0,90
0,60

Ø  Konsep perhitungan ketenagaan (Ratna Sitorue, 2002)
            Penetapan jumlah perawat dilakukan dengan menghitung jumlah pasien berdasarkan derajat ketergantungan selama satu bulan dan dihitung jumlah perawat yang dibutuhkan untuk setiap hari.Setelah itu ditetapkan rata – rata jumlah perawat setiap hari. 
Sebagai contoh, suatu ruang rawat dengan 22 pasien (3 pasien dengan perawatan minimal, 14 pasien dengan perawatan intermediet, dan 5 pasien dengan perawatan total) maka jumlah perawat yang dibutuhkan untuk jaga pagi adalah :
3     x   0,17   =   0,51
14   x   0,27   =   3,78
5     x   0,36   =   1,90
Jumlah 6,09 -------------- 6 orang
D.   Penerapan Model Asuhan Keperawatan
Berdasarkan hasil pengkajian terhadap data-data yang sudah dikumpulkan pada tahap sebelumnya maka metode/model pemberian asuhan keperawatan harus ditentukan,karena keberhasilan suatu asuhan keperawatan kepada klien sangat ditentukan oleh pemilihan metode pemberian asuhan keperawatan yang professional.
Model seperti apakah yang bisa atau seharusnya diterapkan pada Rumah sakit  harus ditentukan terlebih dahulu. Metode pemberian asuhan keperawatan ini harus efisien dan efektif, artinya harus ada pembagian tugas, peran dan wewenang yang jelas sehingga tidak terdapat konflik peran/peran ganda bagi perawat.
Dasar Pertimbangan pemilihan model asuhan keperawatan :
o   Sesuai dengan Visi dan Misi Rumahsakit
o   Dapat diterapkan proses keperatan di didalam Asuhan keperawatan.
o   Efektif dan efisiensi penggunaan biaya
o   Terpenuhinya kepuasan pasien, keluarga dan masyarakat
o   Model yang dipilih harus dapat menigkatkan kepuasan perawat, dan tim kesehatan lainnya.
o   Terlaksananya komunikasi antara perawat
Model Asuhan Keperawatan menurut Grant & Massey (1997) dan  Marquis & Huston (1998)
Metode
Deskripsi
Penangung Jawab
Fungsional
Perawat melaksanakan tugas/tindakan tertentu berdasarkan jadwal kegiatan yang ada.
Perawat yang bertugas
Kasus
Perawat bertanggung-jawab terhadap asuhan keperawatan dan observasi pada pasien tertentu.Ratio 1:1
Manager Keperawatan
Tim
Enam-tujuh perawat professional dan perawat associate bekerja sebagai suatu tim, disupervisi oleh kepala tim
Ketua Tim
Primer
Perawatbertanggung jawab terhadap semua aspek asuhan keperawatan, dari hasil pengkajian kondisi pasien untuk mengkoordidir asuhan keperawatan
Perawat Primer
Dari model-model keperawatan diatas yang umum digunakan di Rumah sakit adalah Asuhan keperawatan total : Keperawatan Tim,Keperawatan Primer.
E.   Sistem Pendokumentasian
       Sistem Pendokumentasian Ruangan
Dokumentasi yang digunakan adalah dengan sistim SOR (sources Oriented Record) yaitu sistim pendokumentasian yang berorientasi dari berbagai sumber tenaga kesehatan, misalnya dokter, perawat, ahli gizi dll.
Contoh pendokumentasian :
URAIAN BAGIAN
SUMBER
Lembar indeks diagnosis
Lembar registrasi
Lembar masuk dan keluar RS
Lembar untuk penempelan surat (MRS, rujukan)
Daftar masalah
Lembar Riwayat Penyakit
Lembar catatan Harian Dokter
Lembar Instruksi Dokter
Lembat untuk Pemeriksaan Laboratorium dan radiologi
Lembaran Instruksi dokter dan laporan perawat
Lembar konsultasi
Lembar observasi
Lembar pengkajian dan asuhan keperawatan
Dokter
Administrasi
Administrasi
Administrasi
Administrasi
Dokter
Dokter
Dokter
Dokter/Perawat
Dokter
Dokter
Perawat
Perawat

Administrasi penunjang :
o   Buku laporan jaga harian perawat
o   Buku Injeksi dari ruangan
o   Buku observasi tanda-tanda vital
o   Buku laporan kepala ruangan
o   Buku visite
o   Lembar pengkajian khusus
       Sistim Administrasi
Pada sistim administrasi ini, diuraikan tentang alur pelayanan pasien mulai masuk Rumah Sakit  sampai keluar Rumah Sakit.
F.    Analisa Data Dengan Pendekatan Swot
Sebelum melakukan perencanaan, maka perlu dikaji terlebih dahulu beberapa hal. Fokus identifikasi bisa menggunakan pendekatan yang lazim dipakai yaitu : pendekatan SWOT (Kekuatan, Kelemahan, Kesempatan, dan Ancaman). Di dalam pendekatan ini kita akan mengumpulkan semua data tentang tenaga keperawatan, administrasi dan bagian keuangan yang akan mempengaruhi fungsi organisasi keperawatan secara keseluruhan.Setiap data akan di kelompokan apakah merupakan kekuatan. Kelemahan, kesempatan ataukah merupakan ancaman bagi organisasi.
Berikut ini akan diberikan contoh Pengumpulan data dan Identifikasi masalah berdasarkan pendekatan SWOT
 STRENGTH
WEAKNESS
OPPORTUNITY
THREATENED
      Memiliki visi, misi dan motto Keperawatan
      SDM terdiri dari : DIII (….orang), SPK (….orang), Pekarya (….orang).
      Rumah Sakit Pemerintah Tipe …..
      Terdapat Standar Asuhan Keperawatan
      Tersedia Sarana & prasarana Untuk pasien dan tenaga perawat
      Sudah ada sistim Dokumentasi
      Terdapat Administrasi penunjang
      dll
      Kualitas tenaga belum memnuhi kualifikasi
      MKP belum dilaksanakan
      Belum ada pembagian tugas yang jelas
      Pendokumentasian proses  Keperawata belum optimal
      Dll

      Terbukanya kesemptan melanjutkan pendidikan pada progran yang lebih baik
      Adanya program pelatihan/kursus
      Dll
      Persaingan antar rumah sakit yang semakin kuat
      Adanya tuntutan masyarkat yang lebih tinggi untuk mendapatkan pelayanan
      dll
Setelah dilakukan pengumpulan data dan analisa maka muncul permasalahan-permasalahan yang harus kita kaji untuk dilakukan perencanaan pembenahan.
G.   Rumusan Masalah
Dari data-data yang sudah dikumpulkan dan sudah dilakukan analisa dengan pendekatan SWOT maka kita akan menemukan apa saja permasalahan-permasalahan di dalam sebuah organisasi Rumah Sakit khususnya pada Organisasi Keperawatan.Permasalahan yang ditemukan ini tidak saja hanya kekurangan-kekurangan yang akan menggangu atau menghambat di dalam Organisasi Keperawatan tetapi juga kemungkinan-kemungkinan peningkatan pelayanan agar dapat menjadi lebih baik dari sekarang. Masalah-masalah yang ditemukan akan di kumpulkan untuk selanjutnya dilakukan perencanaan untuk mengatasi permasalahan atau meningkatkan kwalitasnya.
1.   pengorganisasian
Berdasarkan hasil analisa maka  perlu untuk membuat tim kerja dengan pembagian tugas dari masing-masing personel. Sebagai contoh untuk pengelolaan di ruang rawat inap, maka diselenggarakan pengorganisasian dengan pembagian peran sebagai berikut :
1.      Kepala ruangan
2.      Perawat Primer
3.      Perawat Asosier
Adapun penetapan tugas perawat diatas harus sesuai dengan visi dan misi Rumah Sakit/keperawatan, hasil penyelenggaraan model asuhan keperawatan sebelumnya, bagaiman kekuatan sumber daya yang ada dan sarana serta prasarana yang telah diidentifikasi pada pengumpulan data sebelumnya. Pada tahap ini organisasi yang sudah terbentuk mulai merencanakan bagaimana rencana strategis yang akan dijalankan untuk mencapai tujuan di dalam Manajemen Keperawatan.
Organisasi mulai menentukan dan mendiskusikan bentuk dan penerapan praktek keperawatan yang profesional, bagaimana format dan pendokumentasian, mengatur kebutuhan tenaga perawat, Mengatur tugas dan wewenang dari masing-masing perawat di ruangan, jadual kerja dari masing-masing perawat, bagaimana mensupervisi perawat,bagaimana sistim kepemimpinannya, Instalasi-instalasi yang menunjang di dalam proses keperawatan seperti, farmasi, radiologi,laboratorium, gizi (Jalur opersional).Hubungan dengan bagian – bagian lain yang turut mendukung di dalam organisasi rumah sakit ini (anggaran, karyawan non-medis, dll).
2.   Pengaturan waktu dan kegiatan
Pada tahap ini setelah Semua rencana strategis di susun maka mulai dilakukan penetuan kegiatan apa saja yang harus dilakukan dan kapan waktunya.  Sebagai contoh di bawah ini akan diberikan  rencana kegiatan kelompok dalam penerapan model asuhan Keperawatan Profesional yang akan dilakukan dalam satu bulan.
 INGGU
URAIAN RENCANA KERJA
I
1.      Pembuatan Struktur organisasi kelompok
2.      Orientasi ruangan dan perkenalan
3.      Analisa situasi dan perumusan masalah
4.      Penyusunan program kerja
5.      Penyusunan proposal pelaksanaan model asuhan keperawatan profesional
6.      Penyusunan jadwal dan rancangan pembagian peran dalam penerapan model praktek keperawatan profesional
7.      Penyusunan format pengkajian khusus dan sistim dokumentasiasuhan keperawatan
8.      Penyusunan proposal, prosedur sentralisasi obat, dan kelengkapan administrasinya
9.      Penyusunan format supervisi
10.  Penyusunan format penunjang kegaiatan lainnya, seperti format kegiatan harian
11.Uji coba peran
II
1.      Penerapan Model asuhan Keperawatan Profesional : Aplikasi peran, pendelegasian tugas, dan proses dokumentasi keperawatan
2.      Penyempurnaan format kajian dan dokumentasi Keperawatan
3.      Penyelenggaraan Supervisi Keperawatan
4.      Penyelenggaraan Sentralisasi Obat
5.      Persiapan penyelenggaraan rotasi dinas 24 jam
III
1.      Penerapan model asuhan keperawatan profesional : Aplikasi peran, pendelegasian tugas, dan proses dokumentasi keperawatan
2.      Penerapan semua program
3.      Penyelengaraan rotasi 24 jam
IV
1.      Evaluasi penerapan model asuhan keperawatan profesional
2.      Penyusunan laporan

3.   Persiapan pelaksanaan
Setelah seluruh kegiatan ditentukan dan sudah pula ditentukan waktu pelaksanaannya, selanjutnya mulai dilakukan persiapan untuk pelaksanaannya.Inti dari  tahap ini adalah mulai menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan seperti dokumen-dokumen untuk pemberian bukti pelaksanaan, bagaimana deskripsi tugasnya, sekaligus juga pengaturan kembali jadwal (pembagian tugas).
4.   Persiapan pendokumentasian
Dalam kegiatan pendokumentasian, hal yang perlu dipersiapkan antara lain bentuk sistim dokumentasi keperawatan, format pengkajian, format perencanaan, pelaksanaan dan evaluasinya.Termasuk di dalam persiapan ini adalah mengevaluasi kesesuaian format yang dipergunakan selama ini berdasarkan kriteria : apakah sudah sesuai dengan standar dokumentasi keperawatan, apakah mudah atau dipahami semua oleh perawat yang ada di ruangan, apakah efisien dan efektif dalam pelaksanannya? Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian ditentukan tentang model pendokumentasian yang sesuai.

5.   Persiapan evaluasi
Evalusi meliputi penentuan teknik evaluasi, pembuatan alat evaluasi dan sekaligus didalamnya adalah pendokumentasian hasil kegiatannya secara umum. Di bawah ini akan diberikan contoh Instrumen Evaluasi dari sisi kepuasan Pasien dan Perawat.
Instrumen Kepuasan Pasien
Jawablah pertanyaan ini dengan meberikan tanda silang pada jawaban yang telah disediakan
 1.
Perawat memperkenalkan diri kepada anda
        Ya
        Kadang-kadang
        Tidak
2.
Dalam melayani pasien perawat bersikap sopan dan ramah
        Ya
        Kadang-kadang
        Tidak
3.
Perawat menjelaskan peraturan rumah sakit pertamkali anda masuk RS
        Ya
Kadang-kadang
Tidak
4.
Perawat menjelaskan fasilitas yang tersedia di Rumah Sakit pada saat pasien baru
        Ya
        Kadang-kadang
        Tidak
5.
Perawat menjelaskan dimana tempat-tempat yang penting untuk kelancaran perawatan (kamar mandi, ruang perawat, tata usaha dll)
        Ya
        Kadang-kadang
        Tidak
6.
Perawat menjelaskan tujuan perawatan terhadap pasien
        Ya
        Kadang-kadang
        Tidak
7.
Ada perawat atau kepala ruang yang menunjukan kepada pasien tentang perawat yang bertanggung-jawab kepada pasien
        Ya
        Kadang-kadang
        Tidak
8.
Perawat memperhatikan  dan menanggapi keluhan pasien
        Ya
        Kadang-kadang
        Tidak
9.
Perawat memberikan keterangan tentang masalah yang dihadapi oleh pasien
        Ya
        Kadang-kadang
        Tidak
10.
Perawat memberikan penjelasan sebelum melakukan tindakan keperawatan
        Ya
        Kadang-kadang
        Tidak
11.
Perawat meminta persetujuan kepada pasien atau keluarga sebelum melakukan tindakan
        Ya
        Kadang-kadang
        Tidak
12.
Perawat menjelaskan prosedur tindakan yang akan dilakukan sebelum melakukan tindakan
        Ya
        Kadang-kadang
        Tidak
13.
Perawt menjelaskan resiko atau bahaya suatu tindakan pada pasien sebelum melakukan tindakan
        Ya
        Kadang-kadang
        Tidak
14.
Perawat memberikan keterangan atau penjelasan dengan lengkap dan jelas
        Ya
        Kadang-kadang
        Tidak
15.
Perawat selalu memantau atau mengobservasi keadaan pasien secara rutin
        Ya
        Kadang-kadang
        Tidak
16.
Perawat selalu menjaga kebersihan ruangan
        Ya
        Kadang-kadang
        Tidak
17.
Perawat melakukan tindakan keperawatan dengan terampil dan percaya diri
        Ya
        Kadang-kadang
        Tidak
18.

Dalam melakukan tindakan keperawatan, perawat selalu menilai kembali keadaan anda.
        Ya
        Kadang-kadang
        Tidak
Instrumen Kepuasan Perawat (Aplikasi dari teori Maslow)
Jawablah pertanyaan ini dengan meberikan tanda silang pada jawaban yang telah disediakan
NO
PERNYATAAN
STP
TP
CP
P
SP
1.
Jumlah gaji yang diterima dibandingkan pekerjaan yang saudara lakukan





2.
Sistim gaji yang dilakukan institusi tempat saudara bekerja





3.
Jumlah gaji yang diterima dibandingkan pendidikan saudara





4.
Pemberian Insentif tambahan atas suatu prestasi atau kerja ekstra





5.
Tersedianya peralatan dan perlengkapan yang mendukung pekerjaan





6.
Tersedianya fasilitas penunjang seperti kamar mandi, te,pat parker dan kanting





7.
Kondisi ruangan kerja terutama berkaitan dengan ventilasi udara, kebersihan dan kebisingan





8.
Adanya jaminan atas kesehatan/keselamatan kerja





9.
Perhatian Institusi rumah sakit terhadap saudara





10
Hubungan antar karyawan dalam kelompok kerja





11
Kemampuan dalam bekerjasama antar karyawan





12
Sikap teman-teman kerja terhadap saudara





13
Kesesuaian antara pekerjaan dengan latar pendidikan saudara





14
Kemampuan dalam menggunakan waktu bekerja dengan penugasan yang diberikan





15
Kemampuan supervise /pengawas dalam membuat keputusan





16
Perlakuan atasan selama saya bekerja di sini





17
Kebebasan melakukan suatu metode sendiri dalam membuat keputusan





18
Kesempatan untuk meningkatkan kemampuan kerja melalui pelatihan atau pendidikan tambahan





19
Kesempatan untuk mendapat posisi yang lebih tinggi





20
Kesempatan untuk membuat suatu prestasi dan mendapatkan kenaikan pangkat





Keterangan : STP : Sangat Tidak Puas, TP : Tidak Puas, CP : Cukup Puas, SP        : Sangat Puas, P: Puas
Seluruh persiapan perencanaan sudah dilakukan, langkah berikutnya adalah mulai mengimplementasikan rencana yang telah di susun oleh Manajemen Organisasi Keperawatan. Setelah seluruh proses perencanaan dilakukan maka langkah berikutnya adalah bagaimana mengimplementasikan rencana tersebut sesuai dengan prosedur atau waktu yang sudah ditentukan. Proses Implementasi ini diusahakan berjalan sesuai dengan rencana yang telah disusun baik dalam jenis kegiatan, waktu dan Personil.Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi ketimpangan-ketimpangan yang akan menyebabkan proses Implementasi ini berjalan tidak sesuai dengan rencana.
Didalam proses Implementasi ini ada beberapa faktor yang turut menunjang di dalam keberhasilan.Faktor-faktor penunjang itu antara lain : Model kepemimpinan, Motivasi, Delegasi dan Supervisi, Komunikasi.
a.    Kepemimpinan
Istilah Kepemimpinan di dalam Manajemen sering diartikan hanya berfungsi pada kegiatan supervisi, tetapi dalam keperawatan fungsi tersebut sangatlah luas. Jika posisi sebagai ketuan tim, kepala ruangan, atau perawat pelaksana dalam suatu ruang, maka perlu pemahaman tentang bagaimana mengelola dan memimpin orang lain dalam mencapai tujuan Asuhan Keperawatan yang berkualitas. Sebagai Perawat Profesional tidak hanya mengelola orang tetapi sebuah proses secara keseluruhan yang memungkinkan orang dapat menyelesaikan tugasnya.
Di dalam Manajemen ada beberapa model atau gaya kepemimpinan dalam suatu organisasi.. Gaya kepemimpinan ini dapat diartikan sebagai suatu cara penampilan  karakteristik.
Jenis gaya Kepemimipinan  (Menurut Gillies 1996) :
o   Otoriter : Kepemimpinan berorientasi pada tugas atau pekerjaan.Pemimpin menetukan semua tujuan yang akan dicapai dalam pengambilan keputusan.Informasi disampaikan hanya demi kepentingan tugas.Motivasi dengan reward dan punishment.
o   Demokratis : Kepemimpinan yang menghargai sifat dan kemampuan setiap staff.Informasi diberikan seluas-luasnya dan terbuka.Pemimpin menggunakan kekuasaannya untuk mendorong ide dari staf dan memotivasi kelompok untuk menetukan tujuannya sendiri.
o   Pertisipatif     :  Kepemimpinan gabungan antara gaya otoriter dan demokrasi. Pemimpin yang menyampaikan hasil analisa dan mengusulkan tindakan tersebut pada bawahanya. Staf diminta saran dan kritiknya serta mempertimbangkan respon staf terhadap usulannya, dan keputusan akhir pada kelompok.
o   Bebas Tindak : Merupakan pimpinan Offisial. Karyawan menentukan sendiri kegiatan tanpa pengarahan, supervise, dan koordinasi.Staf mengevaluasi pekerjaan sesuai dengan cara  sendiri. 
Dari gaya kepemimpinan di atas, seorang pemimpin yang baik harus bisa mengkombinasikan jenis gaya diatas dalam melakukan supervisi terhadap staf.Pemimpin yang efektif harus memiliki kemampuan untuk menggunakan proses penyelesaian masalah, mempunyai kemampuan komunikasi yang baik, menunjukkan kejujuran dalam memimpin, kompeten, kreatif, dan kemampuan mengembangkan kelompok.
Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang Manajer Keperawatan : Kepemimpinan, Pengambilan Keputusan & perencanaan, Hubungan masyarakat/komunikasi, Anggaran, Pengembangan, Personaliti, Negosiasi.
b.    Motivasi Kerja
Motivasi adalah Karakteristik psikologi manusia yang memberikan kontribusi pada tingkat komitmen seseorang.Motivasi ini mendorong seseorang melakukan pekerjaan atau menjalankan kekuasaan terutama dalam berperilaku.  Motivasi kerja adalah suatu kondisi yang berpengaruh untuk membangkitkan, mengarahkan, dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja.
 Memotivasi adalah proses Manajemen untuk mempengaruhi tingkah laku manusia berdasarkan pengetahuan tentang “apa” yang membuat orang tergerak (Stoner & Freeman, 1995). Menurut bentuknya motivasi terdiri dari :
         Motivasi Instrinsik      : Motivasi yang datang dari dalam diri individu
         Motivasi Ekstrinsik    : Motivasi yang datang dari luar diri Individu
         Motivasi Terdesak    : Motivasi yang muncul dalam keadaan terdesak.
Dalam memotivasi staf untuk mencapai tujuan organisasi, seorang pemimpin memegang peranan yang sangat penting.Untuk melaksanakan tugas ini pimpinan harus mempertimbangkan keunikan/karakteristik dari stafnya dan berusaha untuk memberikan tugas sebagai suatu strategi dalam memotivasi staf.
c.    Delegasi & supervisi
Delegasi dapat diartikan sebagai  penyelesaian suatu pekerjaan melalui orang lain. Atau pemberian tugas kepada seseorang atau kelompok  dalam menyelesaikan tujuan organisasi. Delegasi dalam praktek keperawatan professional sering mengalami masalah, dimana proses delegasi tidak dilaksanakan secara efektif. Hal ini diarenakan tiga hal :
   under –delegasi : Pelimpahan tugas terlalu sedikit. Staf diberi wewenang yang sangat sedikit, terbatas dan sering tidak terlalu jelas.
   over-delegasi  : Pemberian delegasi berlebihan. Di sini dapat terjadi penyalahgunaan wewenang.
   unproper delegasi : Pelimpahan yang tidak tepat.Kesalahan yang ditemukan adalah, pemberian tugas limpah, orang yang tepat, dan alasan delegasi hanya karena faktor senang/tidak senang. Pelimpahan ini tidak efektif karena kecendrungan pimpinan menilai pekerjaanya berdasarkan unsur Subyektif.
Delegasi yang baik tergantung pada keseimbangan antara komponen tanggung jawab, kemampuan dan wewenang.Tanggung jawab (responsibility) adalah suatu rasa tanggung-jawab terhadap penerimaan suatu tugas.Kemampuan(accountability) adalah kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas limpah.Wewenang (authority) adalah pemberian hak dan kekuasaan penerima tugas limpah untuk mengambil suatu keputusan terhadap tugas yang dilimpah.
 Bagaimana proses pendelegasian :
1.      Seleksi dan susun tugas
2.      Seleksi orang yang tepat
3.      Berikan arahan dan motivasi staf
4.      Lakukan supervise yang tepat
Keberhasilan dalam pendelegasian akan ditentukan oleh faktor-faktor berikut ini :
Ø  Komunikasi yang jelas dan lengkap : Kelengkapan informasi yang disampaikan, akurasi terhadap pesan, penggunaan kata-kata atau istilah yang mudah diterima oleh penerima pesan.
Ø  Ketersediaan sumber dan sarana.
Ø  Monitoring
Ø  Pelaporan kemajuan tugas limpah

d.    Komunikasi
Komunikasi merupakan unsur yang penting dalam aktivitas manajer keperawatan dan sebagai bagian yang selalu ada di dalam proses manajemen Keperawatan. Komunikasi adalah suatu pertukaran pikiran, perasaan, dan pendapat dan memberikan nasihat dimana terjadi antara dua orang atau lebih bekerja bersama.Komunikasi juga dapat diartikan suatu seni untuk menyusun dan menyampaikan suatu pesan dengan cara yang gampang sehingga orang lain dapat mengerti dan menerima.

Model komunikasi :
  Komunikasi tertulis : Publikasi perusahaan, Surat-menyurat ke staf, pembayaran, jurnal
  Komunikasi secara langsung : Komunikasi secara verbal dengan atasan, atau bawahan atau dengan pihak lain.
   Komunikasi non-verbal : Komunikasi dengan menggunakan ekspresi wajah, dan sikap tubuh.
  Komunikasi via telepon
Komunikasi dalam praktek keperawatan Profesional merupakan unsur utama dalam melakukan asuhan keperawatan untuk mencapai hasil yang optimal. Kegiatan Perawat yang memerlukan komunikasi adalah :
a.      Komunikasi saat timbang terima
Komunikasi yang jelas tentang kebutuhan klien terhadap apa yang sudah dilakukan intervensi dan yang belum, serta respon pasie yang terjadi.
b.      Interview/Anamnese
Komunikasi dengan tujuan untuk memperoleh data tentang keadaan klien yang akan dipergunakan dalam mendukung masalah yang dihadapi pasien dan melaksanakan tindakan dengan akurat. Anamnese ini bisa dengan pasien, keuarga, dokter dan tim lainnya.
Prinsip yang perlu diterapkan oleh perawat dalam komunikasi ini :
Ø  Hindari komunikasi yang terlalu formal atau tidak tepat.Ciptakan suasan yang hangat dan kekeluargaan
Ø  Hindari Interupsi
Ø  Hindari respon dengan kata hanya ya dan tidak (perawat kurang tertarik degan topik yang dibicarakan)
Ø  Jangan memonopoli pembicaraan
Ø  Hindari hambatan personal (Jika perawat menunjukan rasa tidak senang pada klien, maka hasil yang didapt  tidak optimal)

c.    Komunikasi melalui komputer
Melalui komputer, informasi-informasi terbaru dapat cepat didapatkan dengan menggunakan internet bila perawat mengalami kesulitan dalam menangani masalah klien.
d.    Komunikasi tentang kerahasiaan
Pasien yang masuk menyerahkan rahasia dan rasa percaya kepada Institusi. Oleh karena itu perawat harus berusaha menjaga dengan baik.
e.    Komunikasi melalui sentuhan
Metode ini merupakan metode dalam mendekatkan hubungan antara pasien dan perawat. Sentuhan yang diberikan oleh perawat juga dapat sebagai terapipagi pasien, khusunya pasien dengan depresi, kecemasan dan kebingungan, dalam mengambil suatu keputusan.
f.     Dokumentasi sebagai alat komunikasi
Ketrampilan dokumentasi yang efektif memungkinkan perawat untuk mengkomunikasikan kepada tenaga kesehatan lainnya dan menjelaskan apa yang sudah, sedang dan akan dikerjakan oleh perawat.

Manfaat pendokumentasian ini adalah :
o   Dapat digunakan ulang untuk keperluan yang bermanfaat.
o   Mengkomunikasikan kepada tenaga perawat lainnya dan tenaga kesehatan apa yang sudah dan akan dilakukan kepada pasien.
o   Manfaat dan data pasien yang akurat dan dapat dicatat.

g.    Komunikasi perawat dan tim kesehatan lainnya
Komunikasi yang baik akan menungkatkan hubungan professional antar perawat dan tim kesehatan lainnya : dokter, ahli gizi, fisioterapis, dll.
Prinsip – prinsip penilaian
Menurut Gillies(1996) untuk mengevaluasi staf secara tepat dan adil, sebaiknya mengamati prinsip-prinsip tertentu ;
         Evaluasi pekerja sebaiknya didasarkan pada standar pelaksanaan kerja.Standar ini harus sudah disosialisasikan terlebih dahulu agar setiap staf mengetahui standar penilaian masung-masing
         Perawat sebaiknya diberikan salinan deskripsi kerjanya, salinan standar pelaksanaan kerja, dan bentuk evaluasi
         Didalam menuliskan penilaian pelaksanaan kerja staf, sebaiknya menunjukan segi-segi dimana pelaksanaan kerja itu bisa dikatakan memuaskan, dan perbaikan apa yang diperlukan, dan jika diperlukan dijelaskan pula daerah mana yang harus diprioritaslan
         Laporan evaluasi sebaiknya disusun dengan terencana


Proses Kegiatan Penilaian Kerja meliputi :
         Merumuskan tanggung-jawab dan tugas yang harus dicapai oleh staf keperawatan.Rumusan ini harus sudah disepakati dan harus dapat memberikan kontribusi berupa hasil.
         Menyepakati sasaran kerja dalam bentuk hasil yang harus dicapai oleh karyawan untuk kurun waktu tertentu dengan penempatan standar prestasi dan tolak ukur yang telah ditetapkan.Penilaian prestasi kerja dengan membandingkan prestasi yang sudah dicapai dengan standar ini.
         Melakukan monitoring, koreksi, dan memberikan kesempatan serta bantuan yang diperlukan.
         Memberikan umpan balik kepada staf yang dinilai.
Tahapan –tahapan di dalam proses keperawatan yaitu :
1.      Pengkajian Keperawatan
2.      Diagnosa Keperawatan
3.      Perencanaan Keperawatan
4.      Implementasi
5.      Evaluasi Keperawatan

1. PENGKAJIAN
 Pengkajian adalah tahap awal di dalam proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistimatis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan Pasien.
 Pengkajian merupakan dasar utama di dalam memberikan asuhan keperawatan oleh karena itu data yang diperoleh harus akurat, lengkap, sesuai dengan kenyataan, kebenaran data sangat penting dalam merumuskan diagnosa keperawatan.
 Perawat harus mengumpulkan data tentang status kesehatan Pasien secara sistematis, menyeluruh, akurat, singkat, dan berkesinambungan.
Kriteria pengkajian keperawatan, meliputi :
1.      Pengumpulan data dilakukan dengan cara anamnese, observasi, pemeriksaan fisik serta dari pemeriksaan penunjang
2.      Sumber data adalah Pasien, keluarga, atau orang yang terkait, tim kesehatan, rekam medis, dan catatan lain.
3.      Data yang dikumpulkan, difokuskan untuk mengidentifikasi
Status kesehatan Pasien masa lalu
   Status kesehatan Pasien saat ini
   Status biologis-psikologis-sosial-spiritual
   Respon terhadap terapi
   Harapan terhadap tingkat kesehatan yang optimal
   Resiko-resiko tinggi masalah

3 Responses to "Makalah perencanaan pelayanan keperawatan"

* Terima kasih telah berkunjung di blog Saya.
* Comentar yang sopan.
* Kami hargai komentar dan kunjungan anda
* Tunggu Kami di Blog Anda
* No Link Aktif
Salam Kenal Dari Saya