proposal kesehatan "efektivitas pemberian kompres hangat daerah dinding perut (abdomen) dan daerah vena besar terhadap penurunan suhu tubuh pada klien febris di rsud pamekasan"

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1    Latar belakang
Kompres panas dan dingin merupakan metode untuk menurunkan suhu tubuh (Barbara R Hegner, 2003). Sesuai dengan reseptor suhu tubuh bagian dalam, maka penurunan suhu tubuh dengan pendinginan dapat dilakukan pada bagian Hypotalamus, medula spinalis, organ dalam abdomen dan di sekitar vena-vena besar (Artur C.Guyton,1997). Selama ini yang sering dijumpai dalam perawatan pada klien dengan peningkatan suhu dilakukan hanya dengan pemberian kompres pada daerah tubuh yang memiliki aliran vena besar, seperti leher, ketiak (Axila) dan inguinal (lipatan paha). Dimana sebelumnya, dilakukan dengan pemberian kompres pada daerah dahi/kepala (Nancy Roper,1988). Organ intra abdomen merupakan reseptor yang lebih peka terhadap suhu dingin (Artur C Gayton). Sedangkan daerah vena besar, dirasakan cukup efektif karena adanya proses vasodilatasi dengan pemberian kompres hangat untuk menurunkan suhu tubuh. 
Dirumah sakit Pamekasan sesuai hasil studi pendahuluan yang telah peneliti lakukan pada tanggal 23 – 28 Agustus 2004, bahwasanya hampir tidak ada perawat yang mengenal/melakukan pemberian kompres pada daerah dinding perut. Dari 35 orang perawat, 51% perawat menjawab selama ini memberikan kompres pada daerah ketiak/leher sebagai daerah vena besar dan 49% perawat memberikan didaerah dahi/kepala dengan alasan daerah reseptor hypothalamus. Dampak dari seringnya intervensi pada peningkatan suhu dengan kompres pada daerah sekitar vena  besar, perawat tidak dapat mengetahui bagaimana hasil perbandingan jika dilakukan dengan pengompresan pada daerah dinding abdomen. Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya hanyalah perbandingan antara pemberian kompres hangat dan dingin (Sosilo Haryanto 2002), bukan membandingkan tempat pengompresan. Hasil penelitian tersebut kompres hangat lebih efektif daripada pemberian kompres dingin. Sehingga dalam penelitian ini, peneliti juga menggunakan kompres hangat sebagai perlakuan. Dari kelima reseptor suhu yang ada, selain hypothalamus dan vena besar, belum pernah dilakukan penelitian untuk mengetahui reseptor mana yang memiliki efektifitas lebih baik. Sehingga selama ini masih sering dijumpai para perawat hanya melakukan kompres didaerah lipatan -lipatan tubuh sebagai tempat vena-vena besar.
Kondisi ini disebabkan karena selama ini perawat kurang merasakan sebagai suatu kebutuhan, sehingga kurang termotivasi untuk melakukan penelitian tentang intervensi alternative pemberian kompres dalam menurunkan suhu tubuh. Menurut Stanford (1970) bahwa kebutuhan muncul karena adanya sesuatu yang kurang dirasakan oleh orang  tersebut. 
Dengan dilakukannya penelitian ini nantinya diharapkan dapat diketahui kompres pada daerah dinding abdomen apakah lebih efektif dari daerah vena besar yang selama ini dilakukan karena merupakan salah satu reseptor suhu dan terjadi vasodilatasi pada saat pemberian kompres. Dimana organ intra abdomen juga merupakan reseptor suhu yang lebih sensitif terhadap suhu dingin. Kandungan jaringan lemak pada daerah abdomen sangat mempengaruhi proses konduksi panas dari dalam kepermukaan kulit (A.C.Guyton, 1997).
1.2    Rumusan masalah
1.2.1    Pertanyaan masalah
Apakah pemberian kompres hangat pada daerah dinding abdomen lebih efektif daripada  pemberian kompres pada daerah vena-vena besar ?

1.3    Tujuan penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Untuk menentukan perbedaan efektifitas pemberian kompres hangat pada daerah vena besar dan pemberian kompres hangat daerah dinding abdomen pada klien febris di RSUD Pamekasan.
1.3.2 Tujuan khusus
1.    Mengidentifikasi derajat penurunan suhu tubuh dengan pemberian kompres hangat daerah dinding perut
2.    Mengidentifikasi derajat penurunan suhu tubuh dengan pemberian kompres hangat daerah vena besar.
3.    Mengidentifikasi efektifitas kompres hangat pada daerah dinding perut dan daerah vena besar/ketiak.

1.4    Manfaat penelitian
1.4.1    Praktis
1.    Hasil dari penelitian ini dapat dapat diajukan kepada pihak komite keperawatan sebagai protap dalam asuhan keperawatan klien dengan masalah peningkatan suhu tubuh.
2.    Sebagai alternative dalam pemberian intervensi keperawatan yang lebih efektif untuk menurunkan suhu tubuh.
1.4.2    Teoritis
1.  Sebagai data dasar/tambahan dalam penelitian lebih lanjut yang berhubungan   dengan mekanisme suhu tubuh

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
                                                                                                                                                2.1    Konsep  kompres                                                                                                                         2.1.1    Pengertian kompres
Kompres adalah bantalan dari linen atau meteri lainnya yang dilipat-lipat, dikenakan dengan tekanan; kadang-kadang  mengandung obat dan dapat bersih ataupun kering, panas ataupun dingin (Kamus Dorland, 1996)
2.1.2  Tujuan kompres adalah :
1. Membantu menurunkan suhu tubuh
2. Mengurangi rasa sakit atau nyeri
3. Membantu mengurangi perdarahan
4. Membatasi peradangan
2.1.3 Indikasi  kompres dilakukan pada :
1. Klien yang suhunya tinggi
2. Klien dengan perdarahan hebat
3. Klien yang kesakitan (missal infiltrat appendikuler, sakit kepala yang hebat)
2.1.4  Mekanisme kompres terhadap tubuh (Barbara R Hegner, 2003)
Kompres panas dan dingin mempengaruhi tubuh dengan cara yang berbeda.
1. Kompres dingin mempengaruhi tubuh dengan cara :
-   Menyebabkan pengecilan pembuluh darah (Vasokonstriksi).
-   Mengurangi oedema dengan mengurangi aliran darah ke area.
-   Mematirasakan sensasi nyeri.
-   Memperlambat proses kehidupan.
-   Memperlambat proses inflamasi.
-   Mengurangi rasa gatal.
2. Panas (diatermi)
-    Memperlebar pembuluh darah (Vasodilatasi).
-  Memberi tambahan nutrisi dan oksigen untuk sel dan membuang sampah-sampah tubuh.
-    Meningkatkan suplai darah ke area-area tubuh.
-    Mempercepat penyembuhan.
-    Dapat menyejukkan 
    Pemberian kompres panas/hangat pada daerah tubuh akan memberikan sinyal ke hypothalamus melalui sumsum tulang belakang. Ketika reseptor yang peka terhadap panas dihypotalamus dirangsang, system effektor mengeluarkan sinyal yang memulai berkeringat dan vasodilatasi perifer. Perubahan ukuran pembuluh darah diatur oleh pusat vasomotor pada medulla oblongata dari tangkai otak, dibawah pengaruh hypotalamik bagian anterior sehigga terjadi vasodilatasi (Wolf, 1984). Terjadinya vasodilatasi ini menyebabkan pembuangan/kehilangan energi/panas melalui kulit meningkat.
2.1.5   Derajat suhu air untuk kompres  (Wolf, 1984)
-  Dingin sekali    : dibawah 13ºC (55ºF)
-  Dingin        : 10 – 18ºC (50 – 65ºF)
-  Sejuk        : 18 – 26ºC (65 – 80ºF)
-  Hangat kuku        : 26 – 34ºC (80 – 93ºF)
-  Hangat        : 34 – 37ºC  (93 – 98ºF)
-  Panas        : 37 – 41ºC (98 – 105ºF)
-  Sangat panas    : 41 – 46ºC (105 – 115ºF)
2.1.6 Prosedur Pemberian Kompres  (botol air hangat)
1. Menyiapkan perlengkapan
    - Botol air hangat (usahakan yang dispossibel)
    - Kendi air 102º F ( 40º C)
    - Handuk penutup botol air
2. Mencuci tangan
3. Air dalam kendi harus 102º F (40ºC) cek suhu dengan thermometer.
4. Isi air hangat setengah botol penuh
5. Mengeluarkan udara dari botol
6. Tutup botol dengan rapat
7. Keringkan botol air hangat. Cek adanya kebocoran
8. Tempatkan botol air hangat dalam handuk pembungkus
9. Pasang dengan hati-hati pada daerah tubuh yang tepat
10. Jangan pernah tempatkan botol air hangat pada daerah nyeri
11.Cek kulit dalam 10-15 menit untuk memastikan suhu benar dan tidak ada               tanda-tanda terbakar (Barbara. H, 2003).
    Pemberian kompres pada daerah leher, ketiak dan lipat paha mempunyai pengaruh yang baik dalam menurunkan suhu tubuh karena ditempat-tempat itulah terdapat pembuluh darah besar yang akan membantu mengalirkan darah. Sedangkan kompres pada daerah dahi kurang mempunyai pengaruh yang besar dalam menurunkan suhhu tubuh karena tidak memiliki pembuluh darah besar (Widyanti, 2004).

2.2  Suhu tubuh (Body temperatur)
2.2.1 Pengertian Suhu
Adalah Keseimbangan antara produksi panas oleh tubuh dan pelepasan panas dari tubuh (Kozier,1969).
2.2.2 Ada 2 jenis suhu tubuh :
1. Core temperatur (Suhu inti )
Suhu pada jaringan dalam dari tubuh, seperti kranium, thorax, rongga abdomen dan rongga pelvis.
2.  Surface temperatur
Suhu pada kulit, jaringan subcutan, dan lemak. suhu ini berbeda, naik turunnya tergantung respon terhadap lingkungan.
2.2.3     Suhu tubuh normal (W.F.Ganong, 1998)
Pada  manusia, nilai normal tradisional untuk suhu tubuh oral adalah 37ºC (98,6), tetapi pada sebuah penelitian kasar terhadap orang-orang muda normal, suhu oral pagi hari rerata adalah 36,7º C dengan simpang baku 0,2º C. Dengan demikian, 95% orang dewasa muda diperkirakan memiliki suhu oral pagi hari sebesar 36,3 – 37,1ºC. Berbagai bagian tubuh memiliki suhu yang berlainan, dan besar perbedaan suhu antara bagian-bagian tubuh dengan suhu lingkungan bervariasi. Ekstremitas umumnya lebih dingin daripada bagian tubuh lainnya. Suhu rectum dipertahankan secara ketat pada 32ºC. suhu rectum dapat mencerminkan suhu pusat tubuh (Core temperature) dan paling sedikit di pengaruhi oleh perubahan suhu lingkungan. Suhu oral pada keadaan normal 0,5º C lebih rendah daripada suhu rectum
2.2.4    Teori proses penurunan suhu tubuh
Panas hilang dari tubuh melalui radiasi, konduksi, konveksi dan evaporasi.
1. Radiasi
Adalah perpindahan panas dari permukaan satu objek kepermukaan objek lain, tanpa hubungan antara dua objek.
2. Konduksi
Adalah perpindahan panas dari satu molekul ke molekul lain. Perpindahan konduksi tidak dapat mengalihkan tanpa hubungan antara molekul dan nilai normal pada pengeluaran panas. Contoh ketika badan direndamkan kedalam air es. Jumlah perpindahan panas tergantung pada perbedaan suhu, besar dan lama hubungan (kontak).
3. Konveksi
Adalah penyebaran panas melalui aliran udara. Biasanya jumlah sedikit dari udara panas yang berdekatan pada tubuh. Udara panas ini meningkat dan diganti dengan udara dingin dan orang selalu kehilangan panas dalam jumlah kecil melalui konveksi.
4. Evaporasi
Adalah penguapan terus menerus dari saluran pernafasan dan dari mukosa mulut serta dari kulit. Kehilangan air yang terus menerus dan tidak tampak ini disebut kehilangan air yang tidak dapat dirasakan. Jumlah kehilangan panas yang tidak dirasakan kira-kira 10% dari produksi panas basal. Pada saat suhu tubuh meningkat, jumlah evaporasi untuk kehilangan lebih besar.
2.2.5 Pengaturan suhu tubuh
Dalam tubuh, panas dihasilkan oleh gerakan otot, asilmilasi makanan, dan oleh semua proses vital yang berasal  dalam tingkat metabolisme (W.F.Ganong, 1998). Sistem yang mengatur  suhu tubuh ada 3 bagian utama:
1. Sensor pada kulit
2. Inti integrator dalam hypothalamus
3. Sistem effektor yang mengatur produksi dan pembuangan panas
Sebagian besar sensori atau penangkap  sensori ada dikulit. Kulit lebih menangkap respon dingin daripada panas. Adapun panca indra kulit mendeteksi dingin lebih efesien daripada panas. Untuk merasakan perubahan suhu tubuh dan suhu sekitarnya, thermoreseptor ditempatkan sebagian besar dikulit dan otak, dimana neuron thermosensitif didalam Preoptik – Anterior Hyotalamus (PO-AH) merasakan suhu dalam darah yang melewati daerah yang banyak terdapat pembuluh darahnya. Pokok informasi ini dan yang dari bermacam-macam reseptor tepi, kedua syaraf bertemu di hypothalamus anterior dan posterior mengkoordinasikan aktifitas yang dibutuhkan untuk keseimbangan suhu tubuh dalam batas yang tipis. Didalam respon untuk peningkatkan suhu tubuh, neuron dihypothalamus melakukan rangkaian proses yang  menghasilkan kehilangan panas, termasuk vasodilatasi perifer dan berkeringat. Sebuah penurunan suhu sekitar, dibutuhkan  sebuah rangkaian kejadian diantaranya vasokonstruksi perifer, piloereksi, peningkatan metabolisme dan menggigil untuk mempertahankan panas. Pada saat kulit menjadi sangat dingin diseluruh tubuh ada 3 proses fisiologis untuk  meningkatkan suhu.
1. Menggigil, meningkatkan produksi panas
2. Berkeringat dicegah untuk menurunkan kehilangan panas
3. Vasokonstriksi mengurangi kehilangan panas
Integrator hypothalamus, pusat yang mengontrol suhu inti, terletak pada area preoptik dihypotalamus. Pada saat sensor dihipotalamus mendeteksi panas akan mengeluarkan sinyal, dimaksudkan untuk mengurangi suhu. Hal itu untuk menurunkan produksi panas dan meningkatkan pengeluaran panas. Pada saat sensor dingin dirangsang, sinyal mengeluarkan untuk menghasilkan produksi panas dan mengurangi pangeluaran panas. Sinyal dari reseptor peka suhu dingin dihypotalamus mulai pengaruh, seperti vasokonstriksi. Menggigil, dan melepaskan epinefrin, yang meningkatkan metabolisme sel dan menyebabkan produksi panas. Ketika reseptor yang peka terhadap panas dihypotalamus dirangsang, system effektor mengeluarkan sinyal yang memulai berkeringat dan vasodilatasi perifer. Perubahan ukuran pembuluh darah diatur oleh pusat vasomotor pada medulla oblongata dari tangkai otak, dibawah pengaruh hypotalamik (Wolf,1984). Lalu, ketika system ini dirangsang, orang dengan sadar akan membuat penyesuaian yang tepat seperti memakai baju tambahan didalam merespon dingin atau memutar kipas didalam merangsang panas (A.C.Gayton, 1997).
Suhu tubuh diatur hampir seluruhnya oleh mekanisme persyarafan umpan balik, dan hampir semua mekanisme ini terjadi melalui pusat pengaturan suhu yang terletak dihypotalamus. Agar mekanisme umpan balik ini dapat berlangsung, harus juga tersedia pendetektor suhu untuk menentukan kapan suhu tubuh menjadi sangat panas atau sangat dingin (Gayton 1997). Diana Weedman (1997) juga menjelaskan tentang peranan Reticulo Formation sebagai tempat bertemunya inti dalam batang otak yang menerima bermacam-macam input dari sumsum tulang belakang, diantaranya adalah informasi tentang temperature kulit yang dilanjutkan kepada Hypotalamus. Hypothalamus juga mempunyai beberapa reseptor  intrinsik. Termasuk thermoregulator dan osmoreseptor untuk memonitor suhu dan keseimbangan ion secara berkesenambungan.
Konsep “ set-poin” untuk Pengaturan Temperatur
Pada temperatur inti tubuh yang kritis pada tingkat hampir 37,1ºc terjadi perubahan kritis pada kecepatan kehilangan panas dan kecepatan pembentukan panas. Pada temperatur diatas 37,1ºc kecepatan kehilangan panas lebih besar dari kecepatan pembentukan panas sehingga temperatur tubuh turun dan mencapai kembali tingkat 37,1ºc.
2.2.6 Faktor yang mempengaruhi suhu tubuh
Diantara faktor-faktor yang mempengaruhi suhu tubuh, adalah antara lain:
1. Umur.
Pada bayi sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan dan harus dihindari dari perubahan yang ekstrim.Suhu anak-anak berlangsung lebih labil dari pada dewasa sampai masa puber. Beberapa orang tua, terutama umur lebih 75 thn, beresiko mengalami hypotermi (kurang 36º c). Ada beberapa alasan, seperti kemunduran pusat panas, diit tidak adekuat, kehilangan lemak subkutan, penurunan aktivitas dan efisiensi thermoregulasi yang menurun. Orangtua terutama yang sensitif pada suhu lingkungan seharusnya menurunnya kontrol thermoregulasi.
2. Diurnal Variation
Suhu tubuh biasanya berubah sepanjang hari, fariasi sebesar 1ºc, antara pagi   dan sore.
3. Latihan
Kerja keras atau latihan berat dapat meningkatkan suhu tubuh setinggi 38,3 sampai 40º c, diukur melalui rectal.
4. Hormon
Perempuan biasanya mengalami peningkatan hormon lebih banyak daripada laki-laki. Pada perempuan,sekresi progesteron pada pada saat ovulasi menaikkan suhu tubuh berkisar 0,3ºc sampai 0,6ºc diatas suhu tubuh basal.
5. Stress
Rangsangan pada system syaraf sympatik dapat meningkatkan produksi epinefrin dan norepinefrin. Dengan demikian akan meningkatkan aktifitas metasbolisme dan produksi panas.
6. Lingkungan
Perbedaan suhu lingkungan dapat mempengaruhi sistem pengaturan suhu seseorang. Jika suhu diukur didalam kamar yang sangat  panas dan suhu tubuh tidak dapat dirubah oleh konveksi, konduksi atau radiasi, suhu akan tinggi. Demikian pula, jika klien keluar ke cuaca dingin tanpa pakaian yang cocok, suhu tubuh akan turun (Kozier, 1995). Sedangkan Barabara R Hegner (2003) menjelaskan bahwa suhu tubuh dipengaruhi oleh:

-    Penyakit
-    Suhu eksternal/lingkungan
-    Obat-obatan
-    Usia
-    Infeksi
-    Jumlah waktu dalam sehari
-    Latihan
-    Emosi
-    Kehamilan
-    Sirklus menstruasi
-    Aktivitas menangis
-    Hydrasi 
2.2.7 Kontrol Feedback Negatif Pada Suhu Tubuh
    Untuk mempertahankan kontrol perubahan, misal pada suhu, maka system kontrol harus mempunyai respon untuk membawa perubahan didalam variable. Respon jaringan itu diserbut efektor. Didalam system kontrol fisiologi, kadang-kadang terdapat lebih dari satu efektor dan masing-masing dari efektor tersebut harus menerima kontrol informasi input. Informasi ini akan distimulasi oleh efektor untuk meningkatkan atau menurunkan respon utamanya. Kontrol pada efektor dicapai dengan komponen system kontrol kedua yang disebut integrator atau Integrating Center (IC).  IC yang mengontrol “keputusan “dicapai dalam informasi dasar mengenai suhu tubuh. Informasi ini dikirim keintegrating center melalui reseptor khusus yang disebut sensor, yang sensitif untuk merubah suhu. Sebuah system yang mempertahankan menutupnya variabel utama pada nilai pasti disebut system set point.
    Seperti perubahan pada suhu tubuh, sensor mengubah outputnya pada IC, yang kemudian membandingkan  informasi dengan set pointnya. Jika terdapat perbedaan antara kedua nilai tersebut jatuh diluar daerah penerimaan, maka IC memperbaiki respon melalui system efektor. Respon cenderung memperbaiki nilai set point dan menurunkan stimulus pada sensor. Karena  respon system dimonitor dan dibuat dengan bantuan action correvtive, maka tipe system kontrol ini merupakan system yang menjalankan menurut prinsip feedback. Sejak respon corrective selalu dalam keadaan bertentangan langsung dengan perubahan yang sesungguhnya dari set point, seperti kontrol, maka hal ini disebut kontrol feedback negative. Jika suhu terlalu tinggi, system feedback negative akan mengakibatkan suhu menjadi diturunkan. Jika terlalu rendah maka sisitem akan menaikkannya melalui jalur ini
Pada manusia, efektor pengaturan suhu yang utama adalah arteriola dermal, kelenjar kringat dan otot rangka dan termasuk juga didalamnya menggigil serta perubahan suhu sehubungan dengan respon perilaku. Semua input kontrol berasal dari pusat termoregulasi didalam hypothalamus, yang berfungsi sebagai pusat integrasi informasi suhu dideteksi didalam semua bagian tubuh oleh sensor yang disebnut thermoreseptor. Dari thermoreseptor ini, informasi suhu ini dikirim ke hpotalamus untuk dianalisa. Bebrapoa neuron didalam hypothalamus juga secara langsung sensitive terhadap suhu. Hal ini memberikan kontribusi yang penting untuk proses sejak hypotalamus secara langsung memantau tingkat panas didalam darah yang mengalir melalui otak (Nowak, 1999)
2.2.8 Jaras sensoris (Suhu)
    Jenis serat eferen primer yang menghantarkan sensasi kulit terutama menghantarkan impuls rangsang suhu adalah serat C. Serat ini terletak dikolumna dorsalis dan lamina dikornu dorsalis. Pada umumnya suhu dihantarkan melalui traktus spinotalamikus lateralis, dilanjutkan keventralis. Impuls suhu direlai melalui nucleus spinalis N. Trigeminus ( Ganong, 1999). Sewaktu memasuki medulla spinalis, sinyal akan menjalar dalam traktus lissauer sebanyak beberapa segmen diatas dan dibawah. Dan secepatnya akan berakhir terutama pada lamina I,II,III radiks dorsalis. Sesudah ada percabangan satu atau lebih neuron dalam medulla spinalis, maka sinyal akan dijalarkan keserabut thermal asenden yang menyilang ketraktus sensoris anterolateral sisi berlawanan edan akan berakhir di (1) Area retikuler batang otak dan (2) Kapiler ventrobasal thalamus. Beberapa sinyal suhu dari kapiler ventrobasal akan deipancarkan menuju korteks somatosensorik. Adakalanya, dengan penelitian mikroelektrode ditemukan suatu neuron pada area somato sensoris I yang dapat langsung berespon terhadap stimulus dingin atau hangat pada daerah kulit yang spesifik ( Guyton, 1997).
System anterolateralis (ventralis dan lateralis spinotalamikus dan jaras asenden lainnya) juga menuju formasioretikularis mesensefalon dan nucleus nonspesifik thalamus.
2.2.9  Perubahan abnormal suhu tubuh
Setiap orang mengalami perubahan suhu tubuh setiap 24 jam dan batas-batas normal yang dapat diterima adalah suhu 36 hingga 37º5 c.
Suhu diatas atau dibawah batas-batas ini adalah suhu yang abnormal.
2.2.10    Metode Mengukur Suhu Tubuh
Ada empat metode mengukur suhu tubuh, yaitu :
1.  Oral – paling sering digunakan
2.  Aural (telinga) – paling akurat
3.  Rectal – suhu rectal lebih tinggi satu derajat daripada suhu oral
4.  Axilla atau groin (pangkal paha) – kurang akurat.
     (Metode ini digunakan hanya jika kondisi pasien tidak mengijinkan untuk digunakan thermometer oral, aural atau rectal. Pengukuran suhu axilla atau pangkal paha lebih rendah 1ºF (atau 0,6ºC) dari suhu oral.
Metode Mengukur Suhu Rectal (Barbara, 2003)
1.  Lakukan semua tindakan awal presedur.
2. Ingatlah untuk mencuci tangan anda, mengidentifikasi pasien dan memberi privasi.
3.  Siapkan peralatan yang diperlukan diatas nampan:
     - Wadah yang berisi thermometer rectal yang bersih
     - Wadah untuk thermometer yang sudah digunakan
     - Wadah untuk tissue yang kotor
     - Pelumas
     - Wadah kertas tissue
     - Kertas dan pensil
     - Jam tangan dengan detik
     - Sarung tangan sekali pakai
4.  Naikkan sisi penghalang tempat tidur disisi yang berlawanan. Turunkan bagian sandaran tempat tidur. Minta pasien untuk memiringkan tubuhnya membelakangi anda. Bantu pasien jika perlu.
5.  Letakkan sedikit pelumas pada kertas tissue
6.  Pakai sarung tangan jika perlu. Keluarkan thermometer dari wadahnya dengan memegang ujung batangnya. Baca kolom air raksa. Pastikan bahwa air raksa berada dibawah 35,6º C. periksa kondisi thermometer.
7.  Oleskan sedikit pelumas pada bulb dengan tissue
8.  Buka selimut tempat tidur untuk membuka daerah anal.
9. Buka bagian bokong dengan satu tangan. Masukkan thermometer dengan lembut kedalam rectum sedalam 3,75 cm. Tahan pada posisi tersebut. Selimuti kembali segera setelah thermometer dimasukkan
10. Thermometer harus tetap berada didalam selama 5 menit
11. Ambil thermometer, pegang batangnya. Bersihkan ujung batang sampai keujung bulb.
12. Buang tissue pada tempatnya
13. Baca thermometer. Catat hasilnya pada kertas
14. Bersihkan pelumas pada pasien. Buang kertas tisu
15. Lepaskan sarung tangan dan buang sesuai ketentuan rumah sakit. Taruh thermometer pada tempatnya untuk penggunakan pada kesempatan lain. Jika thermometer ini akan digunakan kembali untukm pasien yang sama :
      a. Cuci dengan air dingin dan sabun
      b. Bilas dan keringkan
      c. Kembalikan thermometer kekotak desinfektan pasien masing-masing
16. Turunkan kembali penghalang tempat tidur
17. Lakukan semua tindakan penyelesaian prosedur. Ingatlah untuk mencuci tangan anda, melaporkan penyelesaian tugas dan mendokumentasikan tanggal, waktu, suhu dan reaksi pasien.
2.2.11 Anatomi organ intra abdomen dan otot-otot abdomen

2.3    Demam
2.3.1 Defenisi Demam
Febris atau Demam adalah suhu inti tubuh meningkat hingga sekurang-kurangnya 38,3º C (rectal). Pada orang demam, peningkatan suhu seperti mengingatkan beberapa kerusakan dalam system control pengaturan suhu. Pada kenyataannya, system berfungsi secara normal, tetapi dalam dasar set poin yang baru. Pada demam, set point IC diatur naik yang menyebabkan efektor akan meningkatkan respon suhu tubuh. Tanda dan gejala utama kejadian demam konsisten dengann respon yang diharapkan ketika suhu tubuh menurunkan set point. Pucat dan dinghin adalah hasil dari vasokonstriksi dermal, yang berarti mengembalikan heat loss didalam setting suhu yang tinggi. Menggigil dan berselimut dibawah bed cover juga berarti meningkatkan suhu pada tingkat set point baru. Ketika set point normal dikembalikan, mekanisme heat loss berasal dari penurunan demam. Berkeringat yang berlebihan, kemerahan pada dermal dan melepaskan bed cover, semuanya berarti mengurangi suhu untuk menurunkan nialai set point (Nowak, 1999).
2.3.2 Mekanisme Dasar Terjadinya Demam
    Pireksia dihubungkan dengan beberapa perbedaan kondisi penyakit.  Dari sini dapat diketahui bahwa factor eksternal dapat mmepengaruhi secara langsung pusat regulasi suhu tubuh dihypotalamus untuk menaikkkan set point. Meskipun demikian, hal ini bukan merupakan masalah. Hal ini menunmjukkan bahwa beberapa fasktor eksteranal menstimulasi sebuah pola respon umum, yang dihasilkan dalam peningkatan set poi8nt. Meskipun terdapat banyak ketidakjelasan tentang tahap intermediet didalam proses, namun hal ini diketahui bahwa semua jernis factor produksi demam dapat menyebabkan produksi dan pelepasan bebereapa pirogen internal (substansi pneyebab dermam). Sekali dilepasakan, pirogen indogen (EP) ini memiliki sisa kejadian yang berperan penting untuk menaikkan pengaturan kembali setr point suhu pada hypoptalamus (Gambar. 2.2) (Nowak, 1999)
Pirogen Eksogen.
Sebuah host pada substansi eksogen mampu menyebabkan demam dengan menstimulasi pirogen eksogen jika dikenalkan oleh tubuh. Hal ini secara kolektif disebut pirogen eksogen. Prototype pirogen eksogen adalah endotoksin, sebuah komponen Lipopolisakarida (LPS) dari dinding sel pada bakteri gram negative. Pada bakteri ini, bentuk LPS adalah membran lipid bagian luar yang dihubungkan hanya jika bakteri mengalami injuri atau dibunuh. Karena LPS adalah panas stabil, maka kejadian sterilisasi panas pada substansi yang berisi bakteri gram negative tidak akan mengeluarkan efek pirogenik. Jika diinjeksikan pada manusia fungsi LPS dapat menyebabkan “demam infeksi”. Hal ini merupakan komplikasi umum pada cairan intravena, khususnya ketika pada awalnya tidak diketahui mekanisme dasar demam. Kejadian ini dapat dicegah jika cairan dipersiapkan dalam kondisi steril dan dirawat secara khusus untuk memindahkan kembali LPS. Ketika manusia secara sempurna sensitive terhadap LPS maka area luas dari organisme lain dan substansi – substansi dapat muncul sebagai pirogen eksogen termasuk virus, bakteri, jamur dan area luas dari substasni antigen atau toksik. Beberapa agen terapi, salah satunya karena kelebihan dosis (misalnya Aspirin, atropine, chlorpromazine) atau sensitifitas pasien (misalnya cimetidin, ibuprofen, penicillin) mungkin pirogenik. Aspirin menarik didalam konteks ini sejak biasa digunakan sebagai antipiretik.
Pirogen Endogen
Sebuah eksogen pirogen menghasilkan demam melalui isinya untuk menstimuasi produksi dan pengeluaran pirogen Endogen (EP). Substansi ini diproduksi didalam respon inflamasi yang ditampakkan pada reseptor dihypotalamus untuk menyebabkan peningkatan perubahan/peralihan pada set point suhunya. Sumber relevan secara klinis dari EP yang telah diidentifikasi meliputi PMN, Lymphosit dan makrofag. EP meliputi IL-1 (Interleukin-1), TNF  (Tumor Nekrosis Faktor), IFN (Interferon alpha) dan substansi yang dikandungnya yang disebut Makrofag Inflamatori Protein-1 (MIP-1). Karakteristik terbaik adalah IL-1 dan TNF. IL I diproduksi oleh sejumlah besar sel didalam respon injuri atau aktifasi inflamatori dan khususnya melalui aktifitas makrofag yang memperlihatkan diri menjadi sumber prinsip pada IL-1 didalam peranannya seabagai pirogen endogen. Yang pasti, diamana dicatat dalam bakerimia yang merupakan penjelasan terbaik oleh produksi EP berhubungan denagan aktifasi monosit bebas dan makrofag tunggal didalam liver, limpa dan jaringan lainnya.
    Sesungguhnya, pirogen endogen diproduksi dan dikeluarkan oleh sel fagosit tubuh. Didalam respon pada stimulasi pirogenik, sel ini menghasilkan dan melepaskan EP. Kecuali pada tumor maligna. Sel nonfagosit pada tumor ini (misal leukemia dan penyakit Hodgkin) dapat melepaskan EP. Mekanisme ini dapat menjelaskan kejadian demam secara umum pada beberapa pasien tumor, tetapi mekanisme lain mungkin lebih baik dilibatkan. EP hanya dilepaskan setelah berhenti mengikuti tanda stimulasi sel fagosit. Keterlambatan periode terakhir ini sekitar 1 jam sesudah suhu tubuh siap untuk meningkat. Pelepasan EP sesudah stimulasi dapat dilanjutkan sampai dengan 15 jam. EP hanya butuh beberapa menit untuk menimbulkan tanda pireksia. EP bekerja didalam menerangkan mekanisme regulasi suhu hypotalamus. Sebuah nukleus thermosensitif (nucleus preoptik) didalam hypothalamus anterior menerima input stimulatory dari reseptor hangat dan dingin dikulit, pusat tubuh dan hypothalamus seperti yang terjadi pada EP. Kombinasi sensor/thermostat ini mengeluarkan signal kehypoptalamus posterior, yang kelihatannya untuk mengisi set point system. Hypotalamus posterior memberikan feedback konstan pada permukaan dan temperatur pusat. Diketahui menyimpang dari set point dan kemudian mengatur output ke kortical hypothalamus dan pusat batang otak yang dapat menghasilkan respon korektif.
    Suhu dihubungkan dengan signal intra hypotalamus tergantung dari beberapa tahap intermediate (perantara) meliputi prostaglandin E (PGE), nonamin (Serotonin partikulary), c AMP (Cyclic Adenosin Monophosphate) dan mungkin c GMP (Cyclic Guanosine Monophosphate). IL-1, TNF dan INF semua bertindak melalui jalur yang diperantarai oleh sintesis prostaglandin. Dalam kenyataannya, tingkat kenaikan prostaglandin didalam darah (yang mungkin dihubungkan dengan inflamasi) memicu kenaikan set point didalam jalan yang sama dimana serotonin atau c AMP diinjeksi didalam hypothalamus (Nowak, 1999).                                                                                             2.3.3 Indikasi demam, antara lain:
- Meningkatnya suhu tubuh
- Kulit yang panas, kemerah-merahan
- Jatuh pingsan
- Sakit kepala
- Mual
- Konvulsi
2.3.4  Mekanisme Penurunan Temperatur Bila Tubuh Terlalu Panas
Sistem pengaturan temperatur tubuh menggunakan tiga mekanisme penting untuk menurunkan panas tubuh ketika temperatur menjadi sangat tinggi.
1)    Vasodilatasi
Pada hampir semua area tubuh,pembuluh darah kulit berdilatasi dengan kuat. Hal ini disebabkan oleh hambatan dari pusat sympatis pada hypotalamus posterior yang menyebabkan vasokonstriksi. Vasodilatasi penuh akan meningkatkan kecepatan pemindahan panas kekulit sebanyak 8 kali lipat. Vasodilatasi ini merupakan kerja dari sel anterior dari hypotalamus (Wolf1984).


2.    Berkeringat
Efek dari peningkatan temperatur yang menyebabkan berkeringat memperlihatkan kecepatan kehilangan panas melalui evaporasi yang dihasilkan dari berkeringat ketika temperatur ini tubuh meningkat diatas temperatur kritis 37ºC.
Peningkatan temperatur tubuh 1ºc menyebabkan keringat yang hilang banyak untuk membuang 10 x lebih besar kecepatan metabolisme basal dari pembentukan panas tubuh.
3.    Penurunan Pembentukan Panas
Mekanisme yang menyababkan pembentukan panas berlebihan, seperti menggigil dan thermogenesis dihambat dengan kuat.
2.3.5  Beberapa hal yang perlu dilakukan pada saat suhu tubuh meningkat
1.  Observasi suhu secara berkala setiap 4 - 6 jam
2. Beri minum yang banyak, dapat berupa air putih,susu, air buah, air teh. Tujuannya adalah agar cairan tidak menguap akibat naiknya suhu badan.
3.   Jangan pakai pakaian yang tebal
4.   Kompreslah dengan air hangat pada ketiak, dahi, dan lipat paha
5.  Berikan obat penurun panas sesuai petunjuk atau jika suhu diatas 38ºC (Sophia   Theophilus, 2000).

BAB 3

KERANGKA KONSEP DAN HYPOTESIS PENELITIAN
Gambar 3.1 : Kerangka Konsep Penelitian Efektifitas Pemberian Kompres Daerah Dinding Perut Dengan Daerah Vena Besar terhadap Klien Febris di RSUD Pamekasan.                                            
27

Keterangan :
    Pada pasien febris diberikan kompres hangat daerah vena besar dan dinding perut. Suhu kompres daerah vena besar akan mempengaruhi reseptor arteriol dermal dengan memberikan sinyal ke hypothalamus melalui badan sel di substansi nigra dan memproyeksikan akson keluar ventral root. Selanjutnya melewati ramus comunican putih dan abu-abu. Di hypothalamus sinyal akan diterima oleh bagian anterior hypothalamus dan daerah preoptik yang mengatur set point, dimana hypothalamus anterior akan memberikan respon dengan vasodilatasi.
Sedangkan kompres daerah dinding perut akan memberiakan rengsangan pada otot perut, otot organ intra abdomen yang merupakan reseptor suhu.kemudian sinyal dihantarkan kehypothalamus melalui ventral primary ramus dan ventral root. Di hypothalamus sinyal dari otot sama akan mempengaruhi dari anterior hypothalamus dan preoptik. Selanjutnya dengan set poin hypothalamus akan mengongontrol nilai suhu tubuh hingga stabil.

3.2 Hypotesis Penelitian
Hypotesis yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut,   Ho : tidak ada perbedaan signifikan antara pemberian kompres hangat daerah dinding perut dan vena besar/ketiak.
H1 : ada perbedaan antara pemberian kompres hangat daerah dinding perut dan daerah vena besar/ketiak

link download disini

2 Responses to "proposal kesehatan "efektivitas pemberian kompres hangat daerah dinding perut (abdomen) dan daerah vena besar terhadap penurunan suhu tubuh pada klien febris di rsud pamekasan""

  1. Replies
    1. carax.,. klik download pas masuk di link ADF.,. skip add sudut kanan atas,.,/.

      Delete

* Terima kasih telah berkunjung di blog Saya.
* Comentar yang sopan.
* Kami hargai komentar dan kunjungan anda
* Tunggu Kami di Blog Anda
* No Link Aktif
Salam Kenal Dari Saya